Perihal penampilan,
Ada yang bilang,
"Nad, udah mau 17 tahun gak tinggi-tinggi."
"Harusnya ya kamu minum susu dari dulu."
"Pasti kurang olahraga nih makanya kurang tinggi."
Kalau boleh jujur, aku tertekan sama semua itu. Siapa sih yang gak mau punya tubuh tinggi semampai.
Ada yang bilang,
"Berisi ya nad hehe, kurangi makannya."
Tapi ketika mengurangi makan,
"Jangan kurus, kan gak bagus kalau badan kecil kerempeng."
"Jangan sok diet lah, masa pertumbuhan kok."
Aku bingung harus apa, aku juga mau punya body goals.
Bahkan ketika aku gak mau orang lain sepertiku, lantas peduli dengan isu stunting yang sedang marak, ada yang bilang,
"Peduli isu stunting, sendirinya hehe."
Ada yang bilang,
"Coba belajar make up deh, mukamu selalu kelihatan pucat."
"Ayo dong belajar dandan, masa iya udah mau kuliah gak bisa dandan."
Tapi ketika mencoba dandan, ada juga yang bilang,
"Ih lebih bagus kalau gak make up, lebih natural."
"Kayaknya lebih cocok gak pakai apa-apa kalau kamu, nad."
"Karena udah biasa lihat kamu gak dandan, jadinya kayak beda gitu deh, aneh."
Kalau boleh jujur, aku bingung penampilan seperti apa yang bagus. Munafik kalau gak pengen kelihatan 'good looking' kayak orang-orang.
Perihal kemampuan,
Aku selalu terlihat bisa segalanya, padahal belum tentu itu benar adanya. Bahkan tidak jarang orang bilang,
'kalau Nadya, udah lah pasti bisa.'
Ternyata ucapan itu menjadi dorongan sekaligus tekanan mental. Ya, aku sadar bahwa yang membuat persepsi itu juga tingkah lakuku selama ini.
Tapi dalam setiap prosesnya, gak jarang aku lelah, aku takut, benar-benar takut ketika gagal dan tidak bisa memuaskan ekspektasi orang lain. Sebab aku yakin akan ada banyak ucapan lagi setelahnya. Ucapan meremehkan, kekecewaan, atau bahkan celaan. Misalnya,
'tumben nad kalah, biasanya menang terus.'
Membayangkannya saja aku tidak sanggup, makanya aku selalu mengusahakan untuk bisa segalanya. Lagipula, hal apa lagi yang bisa aku tunjukkan jika bukan itu?
Bahkan ketika berhasil,
'menang terus nad, gak pernah gagal ya?'
Padahal mereka gak tahu apa yang ada di baliknya. Proses berjuang melawan segala hal, termasuk diri sendiri. Terbentur sebelum terbentuk memang benar, terlebih bagi mentalku.
Aku teramat sangat paham, seringkali semua pernyataan itu disampaikan dalam konteks bercanda. Tapi aku juga bingung, kenapa ya aku gak bisa menerimanya sebagai candaan juga? Ah, mungkin aku yang terlalu serius, seperti kata orang-orang. Memang susah ya kalau bercanda sama Nadya, orangnya terlalu serius hehe.
Ngerasa sakit gak dengan semua itu? Iya, aku juga sedih sebenarnya. Se-kuat apapun aku terlihat, aku juga manusia biasa. Aku juga punya mental yang harus dijaga, aku mau baik-baik saja. Bohong kalau aku gak pengen menjadi seperti yang orang-orang suka, tapi gak selamanya aku bisa. Aku paham betul kawan, hidup bukan untuk memuaskan ekspektasi orang lain saja. Tapi sistem seringkali memaksa yang demikian, lantas aku bisa apa?
Baiklah, tarik napas panjang sejenak. Barangkali setelah ini ada lagi yang bilang, 'ayolah nad, bersyukur. Apa sih susahnya?' Gak susah memang, mengingat banyaknya rahmat Allah yang ada saja, itu bisa dilakukan. Tapi menurutku, semua akan jadi omong kosong tanpa bantuan orang lain untuk meminimalisir ucapannya, sebab aku masih terombang-ambing, masih labil. Sebaiknya sama-sama saling menjaga, kan?
Komentar
Posting Komentar