Dear nadd,
Sebenarnya surat ini sedikit
klise, karena ditulis oleh dan untuk diri sendiri. Meskipun begitu, aku
berharap suatu saat nanti apa yang sudah ditulis dapat menjadi pengingat bagi
Nadya dewasa. Hmm barangkali kesan dan pesannya tidak terlalu manis apalagi romantis,
sebab aku yakin pada akhirnya akan menjadi esai. Gaya bahasa yang terlalu
kekanak-kanakan juga selalu menjadi celah di setiap sela isi surat ini.
Oh ya hampir lupa. Aku
ingin berterima kasih kepada seorang Nadya yang sudah berani melangkah dan
berjuang sampai sejauh ini, bertahan dalam melewati segala rintangan, intinya
sudah berusaha menjadi yang lebih baik walau tentu belum menjadi yang terbaik.
Jalan masih sangat panjang, memperjuangkan kesepadanan antara dunia dan akhirat
tidak mudah untuk dicapai. Banyak doa dan harapan yang bergelimang dalam
lantunan sepertiga malam. Pun tak terlepas dari segudang dorongan untuk melaju
ke depan. Ayo bangkit lagi dan ingat bahwa ada Allah beserta orang-orang baik di
setiap langkah.
Terhitung sejak hari
ini, perlu disadari beberapa saat lagi aku akan memiliki KTP dan SIM. Oh betapa
lazim nan terikat erat hal tersebut pada kategorisasi yang ada, tapi percayalah
ini lebih kompleks dari apa yang tergambarkan dalam kacamata awam. Entah bagaimana,
di momen sweet seventeen ini aku
sengaja tidak terlalu menggemborkan ulang tahunku dengan satu atau dua alasan,
terkait merasa tidak perlu terlalu banyak ucapan dibanding ‘tamparan’ untuk
menyadarkan misalnya. Hai, sudah saatnya memikirkan hal yang perlu dipikirkan. Merancang
pendewasaan seperti apa yang akan dibangun. Merencanakan jalan yang akan
ditempuh—tentu tidak terlepas dari rasa yakin bahwa se-apik apapun rencana dan
usaha, tetap Allah yang akan menentukan garis terbaik untuk hambanya.
Berusia
17 tahun acap kali menjadi standarisasi kedewasaan seorang manusia—padahal sampai
usia 18 tahun nanti tetap masih tergolong anak, kan? iya, jelas tercantum di
dalam UU No. 35 Tahun 2014 (aktivis forum anak pasti sudah hafal betul dengan
substansinya). Perkara kedewasaan, awalnya aku hanya ‘mengiyakan’ tanpa
meresapi apa maksudnya, terlalu klasik pikirku. Setelah cukup lama termangu
dalam hanyut pemikiran, aku menyadari bahwa hal ini masih terlalu masif jika
dimaknai. Secara etimologi, dewasa berasal dari bahasa latin partisipel, yakni
kata adultus (grown to full size and strength). KBBI mendefinisikan bahwa dewasa
ialah seseorang yang sudah sampai umur; mencapai kematangan; matang (tentang
pikiran, pandangan, dan sebagainya). Jelas saja aku pribadi tidak puas dengan satu
sumber pengertian yang demikian, lantas aku berusaha memandang secara lebih
komprehensif. Atas abstrak dan absolutnya kebingungan di awal usia 17 ini, aku
mendalami beberapa jurnal untuk menggali lebih dari sekadar cukup informasi.
Dari sudut pandang
agama, ‘baligh’ menjadi kata yang
mengandung makna ‘dewasa’ bagi kalangan muslim. Berdasarkan Al-Qur’an, baligh sendiri sempat tiga kali
disinggung dalam konteks yang berbeda-beda. Pertama, pada Q.S. Al-Nur: 59 disebutkan
kalimat ‘balagha al-hulum’, yang mana
dalam hal ini dikaitkan dengan kedewasaan dari segi fisik. Kedua, pada Q.S.
An-Nisa: 6 pula tercantum dalam kalimat balaghu
al-nikah, yang maksudnya sudah cukup umur untuk menikah dan ditandai dengan
al-rusyd (cakap dan pandai). Tentu
sedikit sensitif dan terlalu dini jika banyak membicarakan tentang pernikahan,
tapi bukan berarti hal tersebut tak perlu dikaji. Ketiga, kata baligh pula pada Q.S. Al-Ahqaf:15 dan
Q.S. Al-Qashash:14 ada dalam kalimat balagha
asyuddah dengan maksud telah sempurna kekuatan, akal, dan pandangannya.
Ibarat sebuah pohon, kedewasaan bagaikan buah yang telah ranum dan siap untuk
dipanen. Maka perlu berkaca lagi, sebab diri ini masih jauh dari kata pantas
jika disebut dewasa.
Di mata hukum, pada KUH
Perdata disebutkan ada dua klasifikasi pendewasaan, yakni secara penuh dan
terbatas. Untuk pendewasaan penuh disyaratkan telah berumur 20 tahun, sedangkan
pendewasaan terbatas ialah sudah berumur 18 tahun. Tidak dapat dipungkiri,
agaknya batas usia menjadi suatu hal yang cukup sengit dalam praktik kehidupan
berpayung hukum. Seorang yang dewasa dianggap mampu berbuat karena memiliki
daya yuridis atas kehendaknya, hingga mampu menentukan keadaan hukum bagi
dirinya sendiri.
Merujuk pada literatur
psikologi (Gordon Allport: 1961), orang disebut dewasa ketika sudah memiliki
ciri-ciri, antara lain punya sense of
self yang semakin kuat, misalnya bisa mengambil keputusan untuk dirinya
tanpa mengandalkan orang lain layaknya anak-anak. Dapat menjalin hubungan dengan
orang lain secara sehat/hangat, baik secara khusus atau umum. Punya kematangan
emosi sehingga mood-nya tidak 100% bergantung pada aksi atau reaksi orang lain/keadaan.
Bisa menerima dirinya secara sehat dan seimbang, misalnya sudah mulai tahu
kelebihan dan kekurangan sehingga tidak melakukan sesuatu hanya berdasarkan
keinginan semata. Bisa membuat pendapat, persepsi, dan bertindak sesuai dengan
kenyataan di luar dirinya. Bisa menjalani hidup sesuai dengan hukum kehidupan
yang berlaku sehingga harmonis hidupnya.
Sampai bagian ini,
Nadya dewasa yang sedang membaca barangkali tertawa melihat hasil tulisan yang
terlalu banyak referensi namun lupa topik utamanya. Ah baiklah, dari beberapa
kajian literatur tersebut sepertinya dapat diambil kesimpulan bahwa usia 17
tahun belum cukup tepat untuk dinyatakan dewasa. Mental, fisik, kemampuan, dan
banyak hal lainnya belum mumpuni. Namun akan lebih etis rasanya jika membuat
komitmen terhadap diri agar ke depannya bisa menjadi wanita dewasa yang shalehah, berwawasan,
berbudi pekerti, dan mampu mencapai segala harapan baik.
Perlu diketahui juga ketika ini ditulis, Nadya 17 tahun memiliki mimpi yang teramat besar dengan tujuan membanggakan agama, bangsa, dan negara. Cita-citanya sebagai salah seorang tokoh wanita terpandang sangat menggebu. Harapan penunjangnya pula, ia ingin betul menjadi mahasiswi Internasional dengan sokongan beasiswa penuh agar dapat hidup independen dan berusaha berdikari, membanggakan mama dan papa, membiayai mereka untuk sama-sama ke Baitullah, termasuk juga agar mandiri dan merasa siap ketika dihadapkan pada situasi selayaknya ibadah menikah. Pun tidak menutup rapat pula perihal keinginannya mengarungi bahtera rumah tangga dengan sosok shaleh yang Allah takdirkan dengan visi dan misi yang sejalan, maka mental, fisik, finansial, dan psikologis perlu diasah. Jangan lupa bahwa berusaha memperbaiki diri adalah kunci untuk mendapat yang sepadan. Semoga selalu istiqamah berjuang untuk dunia dan akhiratnya.
Omong-omong, jika itu sudah tercapai, jangan lupa mengapresiasi
diri. Jika belum, ingat lagi pesan ini agar senantiasa bersemangat.
Salam hangat dari Nadya
di usia 17 tahun,
Selamat
ulang tahun!
—Nadya,
17 Oktober 2020
Komentar
Posting Komentar