"Jangan termenung, hidupmu masih terus berlanjut."
Tangan dingin seorang wanita yang menyentuh bahuku tidak mampu menyadarkan lamunan panjang itu. Pun angin sepoi yang tertiup ke wajah hampir tidak terasa. Tiada sanggup bila mengingat sesuatu yang tak selayaknya diingat. Kelam dan memang patut padam, menggambarkan diriku yang kini hidup dalam jiwa yang tenggelam.
Beberapa hari belakangan bapak selalu dikuntit oleh mata-mata kolonial, bahkan beliau sengaja menyelinap ke pemakaman umum agar penguntit tak berani meneruskan aksinya. Tepat pada Maret 1927, rumah digedor oleh tiga orang berbadan tegap yang aku tak kenal. Salah satu dari mereka membawa sebuah bevelbrief (surat perintah). Kata mereka, bapak akan dibawa ke tempat jauh di timur sana, pembuangan dalam negeri (interneringskamp) Digul. Tanpa putusan pengadilan yang sah bapak ditahan karena dianggap bersimpati pada pemberontakan 1926-1927. Kewenangan itu diturunkan berdasar atas exorbitante rechten (hak-hak istimewa Gubernur Jendral) yang diberikan pada residen yang wilayahnya dilanda pemberontakan. Tak dapat aku pastikan apakah bapakku memang terlibat dalam pemberontakan atau tidak. Namun pemerintah kolonial tetap melakukan penangkapan dengan menggalakkan semboyan, “lebih baik salah tangkap seribu orang, daripada lolos seorang.”
Layaknya anjing terpanggang ekor. Itulah agaknya kalimat yang menggambarkan suasana hidup manusia di Boven Digul. Boven Digul lebih sering disebut Tanah Merah. Entah karena merupakan tempat pembuangan bagi kaum merah (komunis), entah karena tanahnya memang berwarna merah, aku tidak tahu. Yang jelas, tak pernah terbesit dalam pemikiran untuk tinggal di sumber malapetaka yang demikian. Penderitaan badan sebab mendapat perlakuan kasar, kerja paksa untuk membabat hutan dan membuka perladangan sudah menjadi beban berat sehari-hari para Digulis. Di samping maha dahsyat beban yang dipikul, tak sesuai pula kondisi kamp yang ditempati. Sangat padat dan kumuh sebab terlalu banyak penghuninya. Tempat itu menjadi sumber penyakit seperti disentri dan beri-beri. Yang paling berbahaya pula biasanya disebut orang-orang sebagai malaria hitam. Namun sepertinya masyarakat Digul mau tidak mau bertahan hidup di sana. Sulit juga untuk menghindari tempat tersebut, sebab di luar kamp banyak hewan buas serta sudah dikuasai suku-suku pedalaman pemenggal dan kanibal. Bagi sebagian besar Digulis, biarlah mereka sedikit lebih lama hidup dengan tinggal di dalam kamp saja daripada harus mendatangi maut.
Seminggu berselang setelah bapak diangkut paksa, ia mengirim surat bahwa beberapa orang buangan akan dikembalikan ke tempat asalnya. Tapi bapak tak dapat menjanjikan bahwa ia akan menjadi salah satu di antaranya. Di surat itu pula bapak mengaku kepadaku dan ibu bahwa ia sudah setengah tahun menjadi anggota PKI. Kata bapak, ia terpaksa terlibat dalam lingkaran perkumpulan berbahaya itu dengan dalih "sudah kehendak alam" dan "kehidupan lah yang memaksa". Sedikit sesak dadaku ketika bapak menyampaikan bahwa kondisinya baik-baik saja, namun di besluit (surat keputusan) ada terkaan ia akan terkena punale-sanctie (ancaman hukuman). Saat ini yang aku pikirkan adalah nasib ibu dan adikku nantinya jika bapak benar-benar dijatuhi hukuman.
Ibu menangis sesegukan dan merasa tidak menyangka setelah membaca surat dari bapak. Aku tidak tega, namun tidak tahu juga harus apa. Ibu membisikkanku sesuatu,
"kita harus berjuang bersama untuk tetap hidup, nak." Aku tertegun, lantas pemikiranku terasa berat nan bercabang.
Aku bertanya pada ibu, "harus berjuang seperti apa, bu?"
Lalu ibu berlalu menuju kamar tidurnya sambil berkata, "tanamkan saja dulu keyakinan di dalam hatimu bahwa kita sanggup, maka keyakinan itu sendiri yang akan menghantarkanmu pada kesanggupan.”
Hari-hari berikutnya terasa sangat berat. Ibu mati-matian membanting tulang demi menghidupi aku dan adikku. Benar saja, semua pekerjaan dilakukan oleh ibu, termasuk menjadi kuli panggul di pasar. Sementara aku membantu ibu dengan cara bekerja sebagai asisten juru tulis di kantor koran Bumiputera. Awalnya tentu saja mereka menolak ketika aku melamar pekerjaan itu, tak lain dan tak bukan sebab bapakku adalah seorang Digulis. Namun seorang pemuda jajaran tinggi di kantor koran yang biasa dipanggil dengan sebutan “bung Kamlin” justru memberi kesempatan padaku.
Biar ku ceritakan tentang bung Kamlin. Ia adalah anak sulung dari seorang fungsioneerend (pejabat) di negeri ini. Jauh sekali bila dibandingkan denganku, kehidupannya sangat berkecukupan sebab ia lahir di keluarga priayi. Selain baik, parasnya gagah dan menawan, bidang dadanya yang menggoda, tatapannya yang dingin dan tenang, hidung yang mancung dengan raut Asia, gigi rapi dan putih berseri, bibir ranum merah delima, kulit kuning langsat yang memikat, hingga dahi dan dagu yang seolah membangun percaya dirinya. Ah dari ujung rambut sampai ujung kakinya memang menjadi daya tarik. Terlebih ia merupakan pribumi minoritas yang pernah melanjutkan pendidikannya di Belanda jurusan Internationale-wet (hukum internasional). Wajar saja jika aku mengaguminya, kan?
Sudah enam bulan aku bekerja di kantor koran Bumiputera. Enam bulan lamanya juga aku menjadi dekat dengan bung Kamlin. Hampir setiap hari diantarkannya aku pulang ke rumah setelah bekerja, sampai sudah dekat betul keluargaku dengannya. Namun permasalahannya adalah orang tua bung Kamlin yang acap kali terlihat tidak suka dengan kedekatan kami. Maklum saja, latar belakangku adalah anak seorang Digulis, Barangkali mereka takut jika aku terlibat sebagai penggiat PKI dan menjadi bibit masalah bagi keluarga mereka.
Hingga puncaknya, di suatu malam bung Kamlin melamarku. Demi mempererat hubungan memang biasanya pasangan mesti bersumpah setia satu dengan yang lainnya sambil bertukar cincin. Perasaan haru, bahagia, dan tidak menyangka muncul bergejolak menjadi bunga di hatiku. Namun perasaan itu tak berlangsung lama. Ketika di atas pentas hendak dilaksanakan acara utama, bapak bung Kamlin mengambil alih pusat perhatian. Perasaan yang awalnya diterbangkan mendadak dijatuhkan dengan kalimat menusuk dari beliau,
"Saudara-saudara sekalian, mari saya perkenalkan gadis yang ada di depan kita semua ini. Ia adalah anak dari salah satu anggota PKI, agen merah. Maksud dan tujuan saya mengadakan acara ini pula bukan agar bisa mengawinkan anak saya dengannya, jelas saya tidak ikhlas untuk itu. Saya hanya ingin mengingatkan agar kita semua berhati-hati terhadapnya. Alangkah lebih baik jika dia tak berada di kampung ini, untuk berjaga-jaga saja dari pengaruh komunis. Lalu, bagaimana jika kita usir saja?"
Kemudian terdengarlah riuh dari penjuru sudut aula, "Setuju!!! Usir saja!!". Seruan itu seolah menjadi sebuah pertanda akan kehinaanku. Aku menangis dan malu bukan kepalang sambil berlari ke luar meninggalkan sorak sorai yang menggema. Bung Kamlin mencoba mencegatku saat itu, namun ia ditahan oleh orang tuanya.
Pada akhirnya aku menyusuri jalan bersama ibu untuk pulang ke rumah dengan menahan goresan luka yang ada. Pertama, kehancuran hubungan dengan bung Kamlin. Kedua, kehancuran hati sebab dipermalukan. Ketiga, kehancuran jiwa dan raga. Aku merasa dewa keberuntungan tak pernah berpihak kepadaku. Jika dunia begitu kejam, apa gunanya dilahirkan ke dunia?
Sambil terus berjalan, teringatlah aku pada sebuah lantunan syair yang aku sendiri lupa pernah mendengar di mana,
“Hanyut… berhanyut terus…”
“Berhanyut di kayu mati,”
“Sedikit terapung banyak terendam,”
“Menghilangkan rasa remuk di dalam”
Syair yang benar-benar menggambarkan hancurnya aku.
Belum sempat aku beralih dari kisah itu, ada lagi hal yang membuat ku semakin terpukul. Melihat perekonomian yang kian memburuk, ibu memutuskan untuk ikut tinggal di Belanda bersama majikannya. Ada banyak sekali perempuan yang akan diberangkatkan ke sana untuk sekedar bekerja sebagai pengasuh anak. Mereka sering disebut sebagai babu, sebuah diksi yang diduga lahir dari ucapan orang Belanda dengan menggabungkan kata “mbak” dan “ibu”.
Ibu bilang semua Itu ia lakukan demi aku dan adikku. Selama ini ternyata ibu selalu gali lubang tutup lubang demi memenuhi kebutuhan hidup. Jika membabu di Belanda tidak dilakukannya, maka ibu dijadikan gijzeling (sandera karena belum mampu melunasi hutang). Oleh karena itu, ibu memutuskan untuk berangkat ke Belanda dengan membawa adikku, sebab majikan ibu menjanjikan pendidikan Eropa untuknya. Kini aku sendirian tinggal di negeri penuh propaganda ini, melangkah tanpa arah tanpa tahu harus ke mana dan hendak mengejar apa.
Sementara di tanah Papua sana, bapak kembali berulah dengan komplotannya. Segerombolan dari mereka tertangkap ketika berniat untuk kabur dari Digul dengan cara menyabotase kapal-kapal yang akan mengangkut persenjataan. Akhirnya mereka dijadikan sebagai tahanan Tanah Tinggi karena onverzlijken (menentang terus). Letak daerah Tanah Tinggi ini jauh lebih buruk, sehingga banyak para buangan yang menderita sakit parah, kemudian banyak beberapa buangan yang menyerah kepada pihak Belanda untuk menjadi orang werkwillig (pembantu pemerintahan) dan terus bekerja di Tanah Merah.
Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku untuk bapakku yang teramat bebal dan keras kepala. Ia tetap mencoba kabur dengan menyiasati para penjaga di sana. Diberikannya racun arsenik pada minuman salah seorang penjaga. Setelah tampak kehilangan kesadaran, lantas bapak kabur melintasi hutan yang medannya penuh rintangan. Ternyata tak sengaja kakinya tersandung sebuah batangan pohon ketika berlari, terdengar lah suara jatuh bapak yang menyadarkan seorang penjaga lainnya. Penjaga itu langsung mengarahkan pistol dengan peluru ke kepala bapak. Sudah dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya, bapak tewas tertembak sebab peluru yang diarahkan menembus dan memecah tempurung kepalanya. Aku baru mengetahui kabar bahwa aku sudah menjadi seorang yatim dua bulan setelah kejadian. Tepatnya saat ibu dan adik sudah tidak ada kabar lagi semenjak pergi ke Belanda. Saat aku seorang diri. Saat aku merasa kalut dalam renungan seiring masih berusaha menyemangati diri, meskipun tahu memperpanjang hidup tiada guna lagi.
Berbulan-bulan aku hidup luntang-lantung, sama sekali tidak memulihkan perasaan. Setelah mendapat kabar burung bahwa akan segera diadakan kongres kepemudaan di Batavia, aku memberanikan diri untuk berangkat ke sana. Pun sempat terbaca olehku sebuah berita yang menyebutkan terdapat perusahaan perkebunan besar di Batavia, aku semakin tertarik pergi sekalian melamar menjadi buruh wanita di perusahaan itu. Batavia adalah gemeente (kota) besar dengan onderstand (tunjangan) yang sudah pasti menjanjikan, mungkin ini akan menjadi cara untuk mengubah nasib, pikirku.
Perjalanan ku mulai dari buitenzorg (Stasiun Bogor) hingga sampai di stasiun Batavia. Aku berangkat bersama dengan muda-mudi yang juga akan turut serta dalam kongres. Semuanya berasal dari Jong Java, begitu pula denganku. Di Batavia nanti akan dikumpulkan juga muda-mudi dari Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islaminten Bon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan masih banyak organisasi lainnya untuk bersatu demi kemerdekaan. Kebanggaan dan rasa senasib yang menjadikan kami bersepakat untuk menggelar kongres. Hingga kongres ini melahirkan sebuah ikrar yang dilantunkan dengan lantang pada 28 Oktober 1928,
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.”
“Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.”
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Setelah urusan kongres selesai dilaksanakan, aku melanjutkan tujuan utamaku datang ke Batavia, yakni melamar pekerjaan. Akhirnya aku diterima bekerja di perusahaan perkebunan terbesar, perkebunan Deli namanya. Rasanya lega sekali masih ada harapan yang dapat terkabulkan.
Beberapa minggu bekerja di sana, muncul kejanggalan yang terjadi di depan mataku. Sering kali aku berpapasan dengan buruh wanita yang dipanggil ke ruangan bos besar saat jam kerja untuk menjadi pemuas nafsu tuan mereka. Siapa yang dengan beraninya menolak akan dihukum berjemur di tengah teriknya matahari atau bisa saja lebih dari itu.
Landasan moral sangat konservatif dalam urusan seks. Mereka terbiasa menjalani hubungan seksual dengan perempuan Asia atau lebih tepatnya pemerkosaan karena tak ada persetujuan dari pihak wanita. Di tangan orang-orang Eropa, para buruh wanita menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Praktik nista seperti demikian seyogianya tidak dianggap hal yang biasa, namun apa mau dikata memang sudah begitu sejak lama.
Suatu hari saat pukul 10 pagi, hampir seluruh buruh wanita dikumpulkan. Tuan administratur berusia 30 tahunan datang memeriksa buruh perempuan satu per satu. Wanita yang paling cantik pula akan dipilih untuk dijadikan gundik olehnya.
Tak dapat dihindari, hal yang memuakkan terjadi. Harus diakui bahwa penampilanku tak kalah molek dari wanita Eropa. Itu lah yang menjadi alasan bagi administratur mendekat dan tampak terpesona oleh rupaku. Benar saja, aku yang cukup ketakutan saat itu diam seribu bahasa melihat seluruh teman-teman buruh wanita disuruh ke luar dari ruangan, sedangkan aku terpaksa ditinggalkan berdua dengan tuan administratur. Seketika suasana menjadi hening. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telingaku,
"Harry William". Demikian lah nama tuan Eropa itu.
Aku tetap menunduk kala itu. Lantas ia menangkat daguku dan berkata dalam bahasa Belanda,
"Mari kita bicarakan seusai waktu kerja."
Sebagai salah satu pribumi berstatus rendah yang telah melewati beragam kepahitan, aku mati rasa meski tahu nasibku akan tidak baik-baik saja setelah ini. Tentu aku tidak mau dijadikan gundik, betapa hinanya pandangan orang lain atas diriku. Aku takut jika harus bernasib sama dengan gundik lainnya, dijadikan boneka untuk tidur, kemudian ditelantarkan begitu saja setelah menjadi nyai. Meratapi nasib yang akan sangat riskan dengan penyiksaan.
"aku tidak akan sanggup," gumamku.
Pemikiran tersebut sangat berbelit di kepalaku hingga tak terasa waktu kerja sudah berakhir. Aku kembali diperintah untuk menghadap tuan administratur. Aku yang mulanya duduk mengesot di lantai diajak untuk duduk di bangku empuk sebelahnya. Melalui perbincangan itu, ia menyatakan bahwa aku akan dijadikan gundik dan aku harus menerimanya.
Beliau berkata, "derajatmu akan aku naikkan menjadi seorang nyai, kau sudah ku pilih menjadi gundik."
Aku hanya bisa menangis dalam diam, meski katanya derajat kehidupan sosialku akan meningkat tapi statusku tidak akan jelas nantinya. Seorang gundik akan masuk ke dalam ikatan tanpa melalui pernikahan, meski begitu mereka tidak pernah mengindahkan soal itu.
Aku pulang bersama dengannya menaiki mobil mewah yang hanya dimiliki para penguasa. Sampai lah kami di depan rumah bergaya Eropa dengan pekarangan yang tak tanggung luasnya. Digendongnya aku ke dalam rumah menuju kamar. Aku hanya mampu berdoa pada Tuhan meski sudah pasrah. Melihatku menangis sesegukan si tuan mendekat, kemudian bertanya,
"kau ini kenapa?"
Setelah mengumpulkan segenap keberanian aku berkata dengan suara tercekat,
"aku tidak bisa menjadi gundikmu."
"tentu kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika menolak. Kau inginkan yang seperti itu?" balasnya dengan nada sedikit membentak.
"tapi maaf tuan, aku tidak bisa." Jawabku lagi sambil melepas tangis.
Aku beranjak pergi dari kamar itu, namun tangan si tuan lebih cepat menahanku. Dipeluknya aku secara paksa dari belakang. Tubuhku yang mungil tidak cukup kuat melepas tubuhnya yang besar. Aku berusaha keras hingga kami berdua terdorong jatuh ke arah yang berlawanan. Kepalaku terbentur ujung meja kayu jati hingga mengucur darah, sementara ia menghantam dinding. Aku tidak menyangka bahwa akan sekuat itu, si tuan bahkan agak setengah sadar. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk kabur, tapi ternyata aku terlalu bodoh berhadapan dengan orang ini. Lebih dahulu pintu kamar dikunci dan aku sendiri tidak tahu di mana kunci itu berada. Ia yang sudah mulai sadar kembali bangkit dan tertawa ke arahku seolah mengejek.
Lemas sekali rasanya, tidak ada lagi perlawanan yang bisa ku lakukan. Ia menarik tubuhku lagi dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Aku masih berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan diri dengan menendangnya hingga jatuh terpelanting. Si tuan yang tak terima diperlakukan demikian menolakku hingga jatuh ke lantai. Cukup sengit perkelahian yang terjadi saat itu hingga aku melihat sebuah pisau belati di pojok lemari. Aku pura-pura memancingnya terjatuh ke arah di mana pisau belati itu terletak demi bisa menggapainya. Awalnya aku hanya berniat untuk menggertak agar ia menjauh, namun ternyata pisau itu berhasil direbutnya dan diarahkan berbalik. Pisau itu hendak dilayangkan ke tubuhku sebagai bentuk sesuatu yang akan terjadi jika aku kembali memberontak. Semakin dekat pisau itu, lantas dengan sigap aku menangkis hingga tak sengaja malah tertusuk ke perut si tuan.
Ia terbujur, aku yang menyaksikan langsung terbungkam dan menjuntai ke lantai sambil meratapi tubuh itu. Beberapa saat kemudian, baru aku tersadar sudah membunuh tuan administratur. Badanku gemetar dan aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Sebab kejadian membela diri malam itu, aku ditahan dan diproses melalui pengadilan putih. Nasibku sepertinya akan sama seperti bapak. Yang aku ingat, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bapak dan aku sama-sama seorang pembunuh.
Betsy, seorang penjaga wanita di penjara menyadarkan lamunanku. Tangan dingin itu adalah miliknya. Hari ini putusan terakhir akan dijatuhkan padaku atas perbuatan keji yang telah ku lakukan. Pengadilan memberi pilihan padaku, dipenjara seumur hidup atau dihukum mati. Betsy yang memahami seluruh ceritaku dan masih bersimpati dengan naluri wanitanya mengaku lega. Ia berkata,
"benar kan kataku, kehidupanmu masih akan berlanjut."
Aku menggeleng, "esok aku tidak akan di sini lagi." Jawabku dengan nada dingin pada Betsy.
Aku memilih nasib yang sama dengan bapak. Aku tidak memiliki keyakinan lagi bahwa aku akan sanggup. Selaras dengan kata ibu, jika tidak ada kesanggupan maka tidak ada keyakinan. Aku pamit.
Diadaptasi dari buku eyang Pramoedya, 'Bumi Manusia' dan 'Cerita Dari Digul' sebagai tugas Bahasa Indonesia (yang sangat terlambat dikumpulkan), yakni menulis teks cerita sejarah.
Keren, Nad! Tetap semangat dalam berkarya yaa!
BalasHapusTerima kasih, teman!!
Hapus