Pada akhir tahun 2019 lalu, dunia telah dihebohkan oleh COVID-19 atau yang dikenal dengan wabah virus corona. Nama virus corona berasal dari Bahasa latin “corona” dan Yunani “korone” yang artinya adalah mahkota atau lingkaran cahaya. Penamaan ini memang tak lepas dari wujud khas virus yang memiliki pinggiran permukaan bulat dan besar, penampilan yang mengingatkan pada “corona matahari.” Bentuk ini tercipta oleh peplomer viral spike yang merupakan protein yang mengisi permukaan virus.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (SARS-Cov-2) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID-19. Corona berasal dari virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga flu yang lebih parah, seperti sindrom pernapasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause”.
Saat ini virus tersebut sudah tersebar ke kurang lebih 185 negara di seluruh dunia dan dikarenakan wadah yang sudah mencakup daerah geografi yang luas maka penyakit ini tergolong sebagai pandemi. Untuk memutus mata rantai penyebarannya, sebagian besar negara menetapkan status lockdown, begitu pun Indonesia yang mengambil keputusan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penerapan PSBB ternyata memberi dampak signifikan bagi masyarakat, termasuk para perempuan dan keberlangsungan menstruasinya.
Menstruasi adalah pendarahan bulanan yang merupakan proses biologis akibat dari perubahan endometrium uterus yang merupakan hasil interaksi sistem endokrin dengan sistem reproduksi. Dengan begitu, tentu tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan pasti akan mengalami menstruasi meskipun di tengah pandemi seperti ini. Kebijakan PSBB yang membatasi ruang gerak tentu saja akan menjadi hambatan dalam proses berlangsungnya menstruasi, contoh kecilnya adalah kesulitan perempuan untuk mengakses pembalut selama menstruasi. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal antara lain, menipisnya persediaan pembalut di warung terdekat karena ada masyarakat yang melakukan panic buying sebelum PSBB berlangsung sebagai bentuk antisipasi, disebabkan sulitnya menjangkau warung untuk membeli pembalut karena harus menuruti himbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah, atau bisa juga disebabkan kesulitan ekonomi di masa seperti ini yang mengharuskan pengeluaran untuk bahan pokok sebagai prioritas. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada jaminan setiap perempuan akan mendapatkan kelayakan sanitasi di masa ini, padahal jika ditelisik lebih lanjut maka hal tersebut dapat dikatakan telah melanggar pemenuhan hak asasi bagi perempuan. Lain hal jika kita dapat berkaca dan mencontoh kebijakan Skotlandia yang menyediakan pembalut gratis bagi semua kaum perempuan di negara tersebut, yang tentunya tidak akan menjadi beban pikiran perempuan ketika dihadapkan pada situasi seperti saat ini.
Di samping itu pula, pandemi dapat memancing kepanikan yang menimbulkan stres, bahkan tidak sedikit perempuan yang mengeluhkan siklus menstruasinya tidak teratur. Stres dapat dipicu oleh faktor kesepian, perubahan dalam kebiasaan, dan pola tidur yang tidak teratur. Di masa ini, kesepian memang tidak jarang terjadi sebab kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah mengharuskan semua orang untuk tetap di rumah saja, adanya batasan sosial inilah yang memberi pengaruh pada mental. Perubahan dalam kebiasaan dan perbedaan putaran waktu keseharian juga harus dihadapi dan akan mengganggu jam utama ritme sirkadian, maka tidak jarang akan berdampak pada terjadinya stres. Sedangkan perubahan pola tidur kerap terjadi, bahkan sebagian besar memilih untuk bergadang serta merasa tidak perlu mengikuti jadwal rutin sehari-hari. Perubahan pola tidur yang cukup drastis tersebut akan mengurangi produksi melatonin dan peningkatan peradangan dalam tubuh.
Stres akan semakin diperparah apabila berlangsung bersamaan dengan waktu PMS (Premenstrual Syndrome), di mana perempuan biasanya akan mengalami emosi naik-turun akibat perubahan tingkat hormon. Stres pula dapat menjadi pemicu berbagai ketidaklaziman dalam fase menstruasi sebagaimana biasanya, antara lain:
1. Siklus mentruasi terlambat atau bahkan terhenti
Saat tubuh sedang dalam keadaan stres, maka hormon kortisol dan kortikotropin akan mengalami peningkatan. Lonjakan hormon kortisol pula dapat menekan hormon reproduksi normal dan menyebabkan amenore (berkurangnya siklus menstruasi) atau pendarahan yang tertunda. Tidak hanya itu saja, stres juga dapat menurunkan kadar esterogen dan mengganggu intensitas darah yang keluar.
2. Waktu menstruasi semakin singkat
Lonjakan kortisol akibat stress juga dapat menyebabkan anovulasi (tidak ada ovulasi), maka akan memiliki waktu menstruasi yang cenderung singkat. Tidak jarang akan ditemukan kasus bahwa perempuan akan mengalami dua periode dalam tenggat waktu satu bulan.
3. Menstruasi terasa lebih sakit
Menurut penelitian pada 388 wanita di Tiongkok, wanita yang mengalami stres akan dua kali lebih berisiko terkena dismenore (nyeri intens saat mengalami menstruasi), tepatnya di bagian perut dan punggung bagian bawah. Rasa sakit ini kurang lebih sebagai bentuk kontraksi yang mendorong luruhnya lapisan dinding rahim.
Wajar saja hal-hal tersebut terjadi dalam masa menstruasi selama pandemi, namun yang perlu digarisbawahi adalah perempuan harus cakap untuk mengelola siklus menstruasinya agar mengetahui apakah ia mengalami gangguan saat menstruasi atau tidak. Cara yang dapat diterapkan adalah cermat dalam mencatat jadwal menstruasi. Siklus menstruasi setiap perempuan pada dasarnya memang tidak bisa disamakan. Dilansir dari laman womenhealth, siklus mentruasi dihitung dari hari pertama menstruasi hingga sehari sebelum menstruasi bulan berikutnya, dengan rata-rata normalnya adalah 28 hingga 35 hari.
Pun agaknya penting untuk menghindari faktor-faktor pemicu terjadinya stres dengan meluangkan waktu untuk melakukan hal yang digemari, tidur yang cukup dan berkualitas, serta senantiasa mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat serta bergizi. Terkhusus dalam hal asupan, perempuan juga dituntut selektif dalam memilah mitos dan fakta selama menstruasi seperti, larangan makan daging agar darah menstruasi tidak amis yang merupakan salah satu mitos, padahal saat menstruasi justru tubuh memerlukan asupan dengan kandungan protein dan zat besi di dalam daging sebagai pengganti sel darah merah yang yang hilang.
Di lain sisi, beraktivitas di rumah saja bukan berarti bisa menjadi alasan perempuan untuk tidak menerapkan MKM (Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi). MKM memegang peranan penting sebab selaras dengan beberapa poin tujuan SDGs yakni, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, serta air bersih dan sanitasi layak. MKM meliputi kebersihan tubuh dan material bersih.
Bagi perempuan yang mengalami langsung menstruasi, diharapkan tetap mengaksentuasi penerapan MKM. Misalnya dalam hal standarisasi penggunaan pembalut atau tampon, dengan tetap harus sadar akan pentingnya mengganti pembalut setiap 4-5 jam dan bisa lebih jika darah yang keluar banyak. Termasuk juga standar terhadap cara pembuangan pembalut (untuk pembalut sekali pakai) dan pencucian pembalut (untuk pembalut yang terbuat dari kain). Selain terkait kebersihan material, menjaga kebersihan tubuh juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Mulai dari mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut, hingga membersihkan area vagina dan sekitarnya dari darah. Mengingat besarnya dampak dari kelalaian dalam menjaga kebersihan selama menstruasi, mulai dari menyebabkan infeksi saluran kencing, infeksi saluran reproduksi, iritasi pada kulit, hingga kanker rahim, maka tidak ada alasan untuk tidak menyuarakan pentingnya penerapan MKM meskipun cukup terhambat selama pandemi.
Berlangsungnya penerapan MKM itu pula tidak dapat terlepas dari peran banyak pihak yang turut menyongsong. Laki-laki memang tidak andil langsung dalam penerapan MKM, namun hendaknya primordialisme bahwa laki-laki tidak perlu tahu dan selalu merasa tabu atas segala hal yang berkaitan dengan seluk-beluk menstruasi harus dihapuskan. Faktanya di masa pandemi seperti ini perlu disadari bahwa peran laki-laki cukup signifikan dalam hal memberikan dukungan dan bantuan. Sama halnya dengan laki-laki, pihak pemerintah yang juga menjadi stakeholder tentu harus menimbang pemenuhan hak yang satu ini, sekurang-kurangnya diharapkan mampu menjamin tersedianya sanitasi yang layak dan bersih bagi perempuan selama pandemi.
Nyatanya fase menstruasi saat pandemi memang akan menuai lebih banyak dampak. Kendati demikian, kewajiban untuk menerapkan Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi (MKM) bukan berarti harus dilalaikan. Aksentuasi MKM perlu didorong oleh realisasi meskipun di tengah pandemi. Dengan disokong oleh kemauan dari pribadi setiap perempuan itu sendiri, pun orang-orang sekitar yang akan memberikan pengaruh, pasti setiap kesulitan yang ada akan lebih mudah dilewati.
DAFTAR PUSTAKA
· Wikipedia. Koronavirus, [online], (https://id.wikipedia.org/wiki/Koronavirus, diakses pada 13 Mei 2020).
· Wikipedia. Manajemen Kebersihan Menstruasi, [online], (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Menstrual_hygiene_management, diakses pada 13 Mei 2020)
· Unicef. MHM Guidance for Teaching, [online], (https://www.unicef.org, diakses pada 14 Mei 2020).
· Oktiani, Vina. 2020. 3 Dampak Pandemi Corona Bagi Siklus Menstruasi, Mana yang Kamu Alami?, [online], (https://m.detik.com, diakses pada 14 Maret 2020)
· Kumparan. 2020. Stres saat Pandemi bisa Pengaruhi Menstruasi, Begini Penjelasannya, [online], (https://m-kumparan-com.cdn.ampproject.org, diakses pada 14 Maret 2020)
· Suara.com. 2020. Pandemi Covid-19 Bikin S iklus Menstruasi Berantakan, Mengapa?, [online], (https://amp-suara-com.cdn.ampproject.org, diakses pada 14 Maret 2020)
· Cosmopolitan. 2020. Begini Girls, Cara Menghitung Siklus Menstruasi!, [online], (https://www.cosmopolitan.co.id, diakses pada 14 Maret 2020)
Komentar
Posting Komentar