Langsung ke konten utama

Pekik-Pekuk Pertanda Peka: Sampaikan, Jangan Berdiam!


Aku dan mama mengambil posisi makan bersebelahan siang ini. Selepas makan, aku pinta bantuan pada mama, "Ma, kakak minta tolong ambilkan itu boleh?" Lantas mama berikan kotak tusuk gigi kepadaku. Merespon hal tersebut, lantas bermasam muka lah aku, sebab aku meminta tolong ambilkan air minum tepat dengan kata 'itu' yang ku tunjuk tadi, bukannya kotak tusuk gigi yang ada di sebelahnya.

Sepersekian detik kemudian, mama berkata, "Tidak semua paham isyarat, tidak semua bisa peka, tidak semua pandai menafsirkan, agaknya berterus-terang sering jadi pilihan tepat." Kena aku! Ya, akhirnya kata 'maaf' jadi perangai yang menghiasi ukiran senyum (manis) ini.

Memang terkadang ber-pernyataan terbuka jauh lebih baik, tidak akan menimbulkan duga sangka yang salah. Akan tahu sama tahu apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan. Antara rasa dan asa antar pribadi pun akan saling terbalaskan.

Manusia tidak bisa disamakan dengan ahli sihir yang mampu membaca pikiran lewat isyarat dan raut wajah saja, lalu cling! Terkabul yang kamu kehendaki. Tidak semudah itu, kan?

Lain pula halnya apabila dalam keadaan 'kepepet', tersedak misalnya. Orang-orang cenderung responsif bila ada tingkah laku yang signifikan terkait keinginan. Jadi kalaupun tidak berani menyatakan hal benar dengan sebenar-benarnya, kurang lebih beri pertanda agar si objek ini mampu memahami.

Manusia, yang meski jadi makhluk yang jauh lebih istimewa dari makhluk lainnya pun tidak sepenuhnya mampu. Berperasa, memiliki pendengaran baik mulai 20 Hz bahkan sampai 20.000 Hz, tidak semuanya bisa peka. Salah server, mungkin. Atau jangan-jangan amplitudo dan frekuensinya kurang tepat? Intinya, sinyal kode belum terdeteksi (Apasih ini).

Begitu juga dalam berteman. Jangan memaksa yang lain memahami, tapi sendirinya tidak berkenan memahami. Kalau kamu kurang suka dengan apa yang dilakukan, sampaikanlah. Ucapkan maaf, lalu jelaskan apa yang sepatutnya. Bukan malah mengawetkan ketidaksukaan dengan saling berdiam satu sama lain. Sesederhana itu.

Hidup bukan tentang dirimu saja. Gak mungkin juga kalau waktu dihabiskan hanya untuk berlama-lama memikirkan keinginanmu. Sekalipun jadi prioritas, bohong juga kalau skala prioritas mulai satu sampai seribu melulu tentangmu. Untuk pribadi ini, harusnya sadar diri.


Kisah diangkat dari peristiwa singkat, tapi setelah berlarut dipikirkan nyelekit juga maknanya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petite Histoire

"Jangan termenung, hidupmu masih terus berlanjut." Tangan dingin seorang wanita yang menyentuh bahuku tidak mampu menyadarkan lamunan  panjang itu. Pun angin sepoi yang tertiup ke wajah hampir tidak terasa. Tiada sanggup bila  mengingat sesuatu yang tak selayaknya diingat. Kelam dan memang patut padam,  menggambarkan diriku yang kini hidup dalam jiwa yang tenggelam. Beberapa hari belakangan bapak selalu dikuntit oleh mata-mata kolonial, bahkan beliau sengaja  menyelinap ke pemakaman umum agar penguntit tak berani meneruskan aksinya. Tepat pada  Maret 1927, rumah digedor oleh tiga orang berbadan tegap yang aku tak kenal. Salah satu dari  mereka membawa sebuah bevelbrief (surat perintah). Kata mereka, bapak akan dibawa ke  tempat jauh di timur sana, pembuangan dalam negeri ( interneringskamp ) Digul. Tanpa putusan  pengadilan yang sah bapak ditahan karena dianggap bersimpati pada pemberontakan 1926-1927.  Kewenangan itu diturunkan berdasar atas...

Perencanaan SMART Menuju Penerapan Blended Learning

Maju kena, mundur kena. Itulah kiranya gambaran pendidikan Indonesia selama masa pandemi ini. Sejak dikeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah d alam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid – 19) , sebanyak 4.504 Universitas yang ada di Indonesia ditutup   ( sumber: kemdikbud.go.id) . Untuk menghindari kluster baru penyebaran virus tersebut, aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan oleh segenap civitas akademika terpaksa dialihkan secara daring. Pembelajaran daring semula dilakukan di Indonesia tanpa adanya persiapan matang. Ketidaksiapan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan yang menurunkan efektivitas proses pembelajaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik tahun 2019, tingkat penetrasi internet di pedesaan hanya mencapai 51,91% sementara di perkotaan sekitar 78,08%. Realitas tersebut menjadi bukti bahwa belum semua daerah mendapatkan infrastruktur yang layak dalam rangka me...

Pesan dari Nadya 17 Tahun untuk Nadya Dewasa

Dear nadd,  Sebenarnya surat ini sedikit klise, karena ditulis oleh dan untuk diri sendiri. Meskipun begitu, aku berharap suatu saat nanti apa yang sudah ditulis dapat menjadi pengingat bagi Nadya dewasa. Hmm barangkali kesan dan pesannya tidak terlalu manis apalagi romantis, sebab aku yakin pada akhirnya akan menjadi esai. Gaya bahasa yang terlalu kekanak-kanakan juga selalu menjadi celah di setiap sela isi surat ini. Oh ya hampir lupa. Aku ingin berterima kasih kepada seorang Nadya yang sudah berani melangkah dan berjuang sampai sejauh ini, bertahan dalam melewati segala rintangan, intinya sudah berusaha menjadi yang lebih baik walau tentu belum menjadi yang terbaik. Jalan masih sangat panjang, memperjuangkan kesepadanan antara dunia dan akhirat tidak mudah untuk dicapai. Banyak doa dan harapan yang bergelimang dalam lantunan sepertiga malam. Pun tak terlepas dari segudang dorongan untuk melaju ke depan. Ayo bangkit lagi dan ingat bahwa ada Allah beserta orang-orang baik di s...