Aku dan mama mengambil posisi makan bersebelahan siang ini. Selepas makan, aku pinta bantuan pada mama, "Ma, kakak minta tolong ambilkan itu boleh?" Lantas mama berikan kotak tusuk gigi kepadaku. Merespon hal tersebut, lantas bermasam muka lah aku, sebab aku meminta tolong ambilkan air minum tepat dengan kata 'itu' yang ku tunjuk tadi, bukannya kotak tusuk gigi yang ada di sebelahnya.
Sepersekian detik kemudian, mama berkata, "Tidak semua paham isyarat, tidak semua bisa peka, tidak semua pandai menafsirkan, agaknya berterus-terang sering jadi pilihan tepat." Kena aku! Ya, akhirnya kata 'maaf' jadi perangai yang menghiasi ukiran senyum (manis) ini.
Memang terkadang ber-pernyataan terbuka jauh lebih baik, tidak akan menimbulkan duga sangka yang salah. Akan tahu sama tahu apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan. Antara rasa dan asa antar pribadi pun akan saling terbalaskan.
Manusia tidak bisa disamakan dengan ahli sihir yang mampu membaca pikiran lewat isyarat dan raut wajah saja, lalu cling! Terkabul yang kamu kehendaki. Tidak semudah itu, kan?
Lain pula halnya apabila dalam keadaan 'kepepet', tersedak misalnya. Orang-orang cenderung responsif bila ada tingkah laku yang signifikan terkait keinginan. Jadi kalaupun tidak berani menyatakan hal benar dengan sebenar-benarnya, kurang lebih beri pertanda agar si objek ini mampu memahami.
Manusia, yang meski jadi makhluk yang jauh lebih istimewa dari makhluk lainnya pun tidak sepenuhnya mampu. Berperasa, memiliki pendengaran baik mulai 20 Hz bahkan sampai 20.000 Hz, tidak semuanya bisa peka. Salah server, mungkin. Atau jangan-jangan amplitudo dan frekuensinya kurang tepat? Intinya, sinyal kode belum terdeteksi (Apasih ini).
Begitu juga dalam berteman. Jangan memaksa yang lain memahami, tapi sendirinya tidak berkenan memahami. Kalau kamu kurang suka dengan apa yang dilakukan, sampaikanlah. Ucapkan maaf, lalu jelaskan apa yang sepatutnya. Bukan malah mengawetkan ketidaksukaan dengan saling berdiam satu sama lain. Sesederhana itu.
Hidup bukan tentang dirimu saja. Gak mungkin juga kalau waktu dihabiskan hanya untuk berlama-lama memikirkan keinginanmu. Sekalipun jadi prioritas, bohong juga kalau skala prioritas mulai satu sampai seribu melulu tentangmu. Untuk pribadi ini, harusnya sadar diri.
Kisah diangkat dari peristiwa singkat, tapi setelah berlarut dipikirkan nyelekit juga maknanya.
Kisah diangkat dari peristiwa singkat, tapi setelah berlarut dipikirkan nyelekit juga maknanya.
Komentar
Posting Komentar