Seolah Putu Wijaya berbisik melalui bait-bait puisi yang saya baca sepuluh menit lalu, "Angan-angan mendaki langit pun runtuh, patah pecah terbelah amarah parah semangat rebah terburai darah triliunan impian punah kita menyerah kala laut pasrah." Tiada luka yang diredam, tiada kubangan lalu yang benar-benar dalam, tiada yang memojokkan pada gelombang padam, tapi tiba-tiba diam. Lalu lantunan syair pula terbaca, membirahi pada diri, "Bila kau percaya pada percaya. Bila kau setia pada setia. Asal kau tetap kau"
"Akan terbit cahaya di dalam kelam"
Komentar
Posting Komentar