"Ih, dia kok sok asik"
"Cari perhatian deh kayaknya"
"Dia kok gitu sih"
"Idih, sok kali gitu gayanya"
"Gak banget pokoknya"
Dan banyak kalimat-kalimat lain yang intinya tetap saja mengkritisi perilaku orang.
Tanpa kamu sadari ternyata waktu milikmu terlalu banyak digunakan semata untuk berpikiran buruk, seolah semua yang dilakukan itu kurang tepat, gak cocok, kurang pas, ada saja kurangnya.
Prasangka-mu selalu saja soalan bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan yang menurutmu paling benar. Sampai-sampai pemikiran ini yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Saya rasa kita semua akan sepakat kalau sifat-sifat tersebut tidak baik, kan?
Kalau bicara soal benar atau salah, kita kembalikan pada persepsi masing-masing. Kamu harus menggarisbawahi bahwa kata persepsi itu dilatarbelakangi oleh konsepsi subjektif. Yang menurutmu pas, belum tentu sama menurut yang lainnya, pun begitu sebaliknya. Tidak dapat menafikkan, karena yang satu ini selalu berdasar atas rasa dengan standar selera, yang sudah dapat dipastikan pasti berbeda-beda. Secara eksplisit, gak setiap hal harus se-iya se-kata gitulah.
Yang cuek diartikan sombong. Yang ramah dikata caper. Yang selalu berusaha berpenampilan baik dianggap banyak gaya. Yang tampil agamis dikira sok alim. Yang tampak tidak bersosial dicap apatis. Mendiskreditkan bukan pilihan, kawan.
Terkadang hidup memang se-lucu itu. Kesimpulan tidak jarang langsung ditarik---baik kamu juga aku sepertinya--- dalam keadaan tergesa-gesa. Terlalu cepat menilai, padahal belum tahu apa-apa yang ada dibaliknya. Ini bukan alasan untuk semata menertawakan keluguan itu, tapi inilah alasan mengapa perlu mengejawantahkan sikap baik dalam setiap ruang dan waktu.
Jangan sampai lupa akan hakikat pribadi sebab terlalu sibuk mengurus soalan dia. Berhenti untuk selalu memikirkan tentang bagaimana orang lain, dan mulailah untuk memperbaiki dari diri sendiri.
Tiap-tiap spasi dalam coretan kali ini adalah afirmasi dari diri sendiri. Pengalaman saya pribadi, sering juga tiba-tiba muncul duga sangka semacam itu. Untuk diri sendiri, tolong jangan nilai satu sisi, tolong.
"Cari perhatian deh kayaknya"
"Dia kok gitu sih"
"Idih, sok kali gitu gayanya"
"Gak banget pokoknya"
Dan banyak kalimat-kalimat lain yang intinya tetap saja mengkritisi perilaku orang.
Tanpa kamu sadari ternyata waktu milikmu terlalu banyak digunakan semata untuk berpikiran buruk, seolah semua yang dilakukan itu kurang tepat, gak cocok, kurang pas, ada saja kurangnya.
Prasangka-mu selalu saja soalan bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan yang menurutmu paling benar. Sampai-sampai pemikiran ini yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Saya rasa kita semua akan sepakat kalau sifat-sifat tersebut tidak baik, kan?
Kalau bicara soal benar atau salah, kita kembalikan pada persepsi masing-masing. Kamu harus menggarisbawahi bahwa kata persepsi itu dilatarbelakangi oleh konsepsi subjektif. Yang menurutmu pas, belum tentu sama menurut yang lainnya, pun begitu sebaliknya. Tidak dapat menafikkan, karena yang satu ini selalu berdasar atas rasa dengan standar selera, yang sudah dapat dipastikan pasti berbeda-beda. Secara eksplisit, gak setiap hal harus se-iya se-kata gitulah.
Yang cuek diartikan sombong. Yang ramah dikata caper. Yang selalu berusaha berpenampilan baik dianggap banyak gaya. Yang tampil agamis dikira sok alim. Yang tampak tidak bersosial dicap apatis. Mendiskreditkan bukan pilihan, kawan.
Terkadang hidup memang se-lucu itu. Kesimpulan tidak jarang langsung ditarik---baik kamu juga aku sepertinya--- dalam keadaan tergesa-gesa. Terlalu cepat menilai, padahal belum tahu apa-apa yang ada dibaliknya. Ini bukan alasan untuk semata menertawakan keluguan itu, tapi inilah alasan mengapa perlu mengejawantahkan sikap baik dalam setiap ruang dan waktu.
Jangan sampai lupa akan hakikat pribadi sebab terlalu sibuk mengurus soalan dia. Berhenti untuk selalu memikirkan tentang bagaimana orang lain, dan mulailah untuk memperbaiki dari diri sendiri.
Tiap-tiap spasi dalam coretan kali ini adalah afirmasi dari diri sendiri. Pengalaman saya pribadi, sering juga tiba-tiba muncul duga sangka semacam itu. Untuk diri sendiri, tolong jangan nilai satu sisi, tolong.
Komentar
Posting Komentar