Langsung ke konten utama

Afirmasi dari Diri

"Ih, dia kok sok asik"
"Cari perhatian deh kayaknya"
"Dia kok gitu sih"
"Idih, sok kali gitu gayanya"
"Gak banget pokoknya"
Dan banyak kalimat-kalimat lain yang intinya tetap saja mengkritisi perilaku orang.

Tanpa kamu sadari ternyata waktu milikmu terlalu banyak digunakan semata untuk berpikiran buruk, seolah semua yang dilakukan itu kurang tepat, gak cocok, kurang pas, ada saja kurangnya.

Prasangka-mu selalu saja soalan bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan yang menurutmu paling benar. Sampai-sampai pemikiran ini yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Saya rasa kita semua akan sepakat kalau sifat-sifat tersebut tidak baik, kan?

Kalau bicara soal benar atau salah, kita kembalikan pada persepsi masing-masing. Kamu harus menggarisbawahi bahwa kata persepsi itu dilatarbelakangi oleh konsepsi subjektif. Yang menurutmu pas, belum tentu sama menurut yang lainnya, pun begitu sebaliknya. Tidak dapat menafikkan, karena yang satu ini selalu berdasar atas rasa dengan standar selera, yang sudah dapat dipastikan pasti berbeda-beda. Secara eksplisit, gak setiap hal harus se-iya se-kata gitulah.

Yang cuek diartikan sombong. Yang ramah dikata caper. Yang selalu berusaha berpenampilan baik dianggap banyak gaya. Yang tampil agamis dikira sok alim. Yang tampak tidak bersosial dicap apatis. Mendiskreditkan bukan pilihan, kawan.

Terkadang hidup memang se-lucu itu. Kesimpulan tidak jarang langsung ditarik---baik kamu juga aku sepertinya--- dalam keadaan tergesa-gesa. Terlalu cepat menilai, padahal belum tahu apa-apa yang ada dibaliknya. Ini bukan alasan untuk semata menertawakan keluguan itu, tapi inilah alasan mengapa perlu mengejawantahkan sikap baik dalam setiap ruang dan waktu.

Jangan sampai lupa akan hakikat pribadi sebab terlalu sibuk mengurus soalan dia. Berhenti untuk selalu memikirkan tentang bagaimana orang lain, dan mulailah untuk memperbaiki dari diri sendiri.

Tiap-tiap spasi dalam coretan kali ini adalah afirmasi dari diri sendiri. Pengalaman saya pribadi, sering juga tiba-tiba muncul duga sangka semacam itu. Untuk diri sendiri, tolong jangan nilai satu sisi, tolong.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petite Histoire

"Jangan termenung, hidupmu masih terus berlanjut." Tangan dingin seorang wanita yang menyentuh bahuku tidak mampu menyadarkan lamunan  panjang itu. Pun angin sepoi yang tertiup ke wajah hampir tidak terasa. Tiada sanggup bila  mengingat sesuatu yang tak selayaknya diingat. Kelam dan memang patut padam,  menggambarkan diriku yang kini hidup dalam jiwa yang tenggelam. Beberapa hari belakangan bapak selalu dikuntit oleh mata-mata kolonial, bahkan beliau sengaja  menyelinap ke pemakaman umum agar penguntit tak berani meneruskan aksinya. Tepat pada  Maret 1927, rumah digedor oleh tiga orang berbadan tegap yang aku tak kenal. Salah satu dari  mereka membawa sebuah bevelbrief (surat perintah). Kata mereka, bapak akan dibawa ke  tempat jauh di timur sana, pembuangan dalam negeri ( interneringskamp ) Digul. Tanpa putusan  pengadilan yang sah bapak ditahan karena dianggap bersimpati pada pemberontakan 1926-1927.  Kewenangan itu diturunkan berdasar atas...

Perencanaan SMART Menuju Penerapan Blended Learning

Maju kena, mundur kena. Itulah kiranya gambaran pendidikan Indonesia selama masa pandemi ini. Sejak dikeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah d alam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid – 19) , sebanyak 4.504 Universitas yang ada di Indonesia ditutup   ( sumber: kemdikbud.go.id) . Untuk menghindari kluster baru penyebaran virus tersebut, aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan oleh segenap civitas akademika terpaksa dialihkan secara daring. Pembelajaran daring semula dilakukan di Indonesia tanpa adanya persiapan matang. Ketidaksiapan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan yang menurunkan efektivitas proses pembelajaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik tahun 2019, tingkat penetrasi internet di pedesaan hanya mencapai 51,91% sementara di perkotaan sekitar 78,08%. Realitas tersebut menjadi bukti bahwa belum semua daerah mendapatkan infrastruktur yang layak dalam rangka me...

Pesan dari Nadya 17 Tahun untuk Nadya Dewasa

Dear nadd,  Sebenarnya surat ini sedikit klise, karena ditulis oleh dan untuk diri sendiri. Meskipun begitu, aku berharap suatu saat nanti apa yang sudah ditulis dapat menjadi pengingat bagi Nadya dewasa. Hmm barangkali kesan dan pesannya tidak terlalu manis apalagi romantis, sebab aku yakin pada akhirnya akan menjadi esai. Gaya bahasa yang terlalu kekanak-kanakan juga selalu menjadi celah di setiap sela isi surat ini. Oh ya hampir lupa. Aku ingin berterima kasih kepada seorang Nadya yang sudah berani melangkah dan berjuang sampai sejauh ini, bertahan dalam melewati segala rintangan, intinya sudah berusaha menjadi yang lebih baik walau tentu belum menjadi yang terbaik. Jalan masih sangat panjang, memperjuangkan kesepadanan antara dunia dan akhirat tidak mudah untuk dicapai. Banyak doa dan harapan yang bergelimang dalam lantunan sepertiga malam. Pun tak terlepas dari segudang dorongan untuk melaju ke depan. Ayo bangkit lagi dan ingat bahwa ada Allah beserta orang-orang baik di s...