Sekolah saya baru saja meluncurkan dua lembar kertas yang berisi tata tertib sekolah, ditambah lagi dengan lembar terakhir yang harus ditandatangani dengan materai enam ribu rupiah sebagai bentuk persetujuan.
Rentetan tata tertib sudah dicanangkan, sebagai ancang-ancang agar tidak ada yang lancang katanya. Sebagai bukti nyata apabila terbukti bersalah, ya kira-kira sebagai bumerang bila ada yang menentang jika dihukum.
Teman-teman saya tidak semudah itu mempersetuju, bahkan sebagian dari mereka justru mempertanyakan kembali faedah aturan-aturan itu, mempersengketakan, dan mempersulit jalannya aturan. Mungkin saja pertanyaan itu dilontarkan sebab memang benar-benar ingin tahu alasannya, atau mungkin basa-basi saja, dan bisa jadi juga sering ditanyakan sebelum memulai pelajaran guna memperlambat kegiatan belajar mengajar.
Kembali ke topik, satu poin yang diperdebatkan adalah dari segi aturan berpakaian. Ngapain sih harus repot-repot mengurus apa yang hendak dipakai oleh pelajar? Terlalu kompleks dan riweuh rasanya. Belajar itu dimana saja, kapan saja, dan harusnya dengan pakaian apa saja dong. Lalu terbesit pada ingatan saya sebuah kalimat yang dibungkus indah tapi membius yang sempat terbaca dari buku dengan judul 'Sekolah itu Candu'. Maka, lihatlah: setelah semua sekolah diwajibkan berpakaian seragam, menyusul pula kewajiban-kewajiban berseragam 'lainnya', nyaris dalam segala hal. Dan itulah yang membuat saya pusing tujuh keliling, pakaian seragam, mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara seragam, tingkah laku seragam, lama-kelamaan wajib seragam pula isi kepala dan isi hatinya. Eh? soal ini nanti saja dibahas agar tidak melebar kemana-mana.
Dari sudut pandang yang sifatnya masih subjektif, ditariklah alasan aturan penggunaan seragam yang kurang lebih sebagai bentuk pemerataan sosial, agar terlihat lebih rapi, dan memang disesuaikan dengan karakter layaknya seorang penuntut ilmu. Di samping itu pula, ada satu hal yang perlu dipertanyakan, penilaian itu dikutip dari pandangan siapa, menurut si A ataukah si B?
Dari sudut pandang yang sifatnya masih subjektif, ditariklah alasan aturan penggunaan seragam yang kurang lebih sebagai bentuk pemerataan sosial, agar terlihat lebih rapi, dan memang disesuaikan dengan karakter layaknya seorang penuntut ilmu. Di samping itu pula, ada satu hal yang perlu dipertanyakan, penilaian itu dikutip dari pandangan siapa, menurut si A ataukah si B?
Persepsi menurut setiap individu tidak bisa disamakan, kan? Benar. Saya pribadi pun tidak terlalu intens mencercahi soalan ini, hmm setuju setuju saja rasanya, toh untuk kebaikan juga. Lagi pula selera pribadi saya menyatakan bahwa remaja belasan tahun yang sedang ranum-ranumnya akan tampak lebih menarik bila menggunakan kemeja putih berdasi dengan bawahan abu-abu berikat pinggang, ditambah kaos kaki putih di atas mata kaki dan sepatu kain, dengan tas sandang yang membebani bahu, rambut tidak gondrong, diikat rapi bagi anak perempuan, dan dengan wajah polos tanpa riasan khas anak-anak remaja.
Akan jauh berbeda apabila menginjakkan kaki ke sekolah dengan kaos beragam corak, celana jeans ketat seperti lemang yang mungkin saja ada sedikit koyak-koyak rombengnya, sepatu sport keluaran terbaru dengan kaos kaki antara ada dan tiada, gelang-gelang karet yang menghiasi pergelangan tangan, rantai yang melingkar di leher, rambut mejikuhibiniu ala ala anak punk, polesan sana-sini yang malah membuat menor, nyaris terlihat menuakan wajah seorang remaja. Kurang etis rasanya bila hal itu menjadi pemandangan di lembaga yang kita sebut sekolah.
Tapi sudahlah, membuang masa kalau terus mencampur-adukkan selera masing-masing dalam segala biang persoalan. Terlepas dari suka atau tidaknya dengan aturan berseragam, ya terserah saja.
Mudahnya begini nih, setidaknya dengan aturan itu kita dapat belajar disiplin, tanggungjawab, keadilan, rasa kebersamaan, dan juga menjaga kenyamanan (menjaga kenyamanan sekolah saja bisa, apalagi menjaga kenyamanan dia hiya hiya).
Versi yang lebih serius: pelajar diwajibkan berseragam agar mudah diidentifikasi, mudah dikenali, dan mudah mengingatkan bahwa tugas yang sebenar-benarnya adalah belajar, bukan bergaya.
Apapun itu, manut saja dengan aturan kalau tidak mau jadi berandalan. Kok gitu? Karena menurut KBBI, berandalan diartikan sebagai orang yang tidak menuruti peraturan yang berlaku lho. Jangan jadikan aturan-aturan itu sekedar hitam di atas putih, dan hilangkan pula persepsi publik yang menyatakan adanya peraturan itu untuk dilanggar.
Dan yang terakhir, alasan mengapa banyak peraturan di sekolah adalah... sekolah, wahana yang terlanjur mendapat predikat 'pabrik terbaik' bagi pewarisan dan pelestarian nilai-nilai. Dibumbui lagi dengan tuntutan pendidikan karakter yang kian membumi membuat beban sekolah semakin berat, makanya segala cara diberlakukan agar 'produk-produk' hasil sekolah ini baik hasilnya, termasuk dengan pencanangan peraturan tata tertib.
Komentar
Posting Komentar