Langsung ke konten utama

Penanaman 4 Pilar Kebangsaan sebagai Perwujudan kontribusi Generasi Muda



Di zaman ini, wujud kontribusi tidak hanya harus dilakukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan memaksimalkan potensi sumber daya manusianya. Indonesia dikenal sebagai Negara dengan jumlah manusia yang melimpah. Namun jika kita menilik lebih jauh mengenai kualitas manusia belum sepenuhnya dapat dikatakan memenuhi mutu dan kualitas sebagaimana diperlukan untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia di negeri ini. Maka dari itu, kontribusi terhadap Negara amat diperlukan. Kontribusi sendiri bermakna sebagai suatu tindakan ikut serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan memposisikan perannya, yang akan memberikan dampak terhadap suatu hal. Dari makna tersebut, tidak hanya individu yang melakukan hal besarlah yang dapat disebut sebagai kontributor—penyokong kegiatan kontribusi, sebab semua orang berhak untuk berkontribusi bagi bangsa ini.

Dideklarasikannya sumpah pemuda pada 28 Oktober merupakan salah satu tonggak utama dalam sejarah yang menegaskan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia, sekaligus pula sebagai dasar bagi para pemuda untuk berkontribusi sesuai dengan perannya. Pentingnya peran generasi muda sangat dibutuhkan ditambah pula dengan terpredikatnya sebagai agen perubahan, dimana nasib bangsa di masa mendatang ada di tangan generasi muda,

Mengenai pemuda, teringat pula ungkapan salah satu pejuang penting Indonesia, bapak Soekarno “beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kawula muda yang diharapkan, dibutuhkan, dan diandalkan oleh negeri ini harusnya memiliki semangat yang semakin membara dengan terembannya beban pada jiwa mudanya-- terus berjuang berimplikasi untuk meraih prestasi yang dapat membanggakan negeri.

Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, sebagai pelajar pun dapat menciptakan sebuah dedikasi untuk Indonesia melalui kegiatan belajar yang semakin optimal. Esensi utama kegiatan belajar dalam hal ini, bukan semata-mata untuk memperoleh nilai akademik yang tinggi saja, melainkan upaya agar potensi generasi muda mampu bersaing dengan pelajar lainnya di kancah internasional.

Upaya untuk mendapatkan impresi dan apresiasi dari segenap masyarakat, termasuk masyarakat internasional tentu diperlukan karakter bangsa di dalamnya sebagai instrumen pertahanan identitas dan integritas bangsa. Namun, kendala yang menjadi penghambat pula ialah kurangnya wawasan kebangsaan yang dimiliki oleh generasi muda di tengah peradaban dunia berdasar globalisasi ini. Jika diberikan contoh, masih terdapat beberapa orang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, namun saat memasuki usia kerja beliau memilih untuk mengabdikan dirinya pada bangsa lain yang dianggapnya lebih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya—vakum dari kewarganegraan Indonesia, hal ini dikarenakan tidak tertanamnya rasa cinta tanah air pada diri pribadi tersebut. Untuk itu, perlulah pula kontribusi dengan tetap mempertahanakan dasar-dasar Indonesia, karena sejatinya berjalannya proses kontribusi tidak akan kondusif bila melupakan pondasi Negara— Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka tunggal ika atau biasa disebut dengan 4 pilar kebangsaan.

“Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang terwujud dalam berbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam perekonomiannya, dalam wataknya dan lain-lain sebagainya.” (Soekarno, 1958)

Berkaca dari masih ‘apatis’-nya generasi muda terhadap pondasi dasar dalam mewujudkan kontribusi menjadi perihal utama dalam  diperlukannya penyelenggaraan pendidikan berbasis teknologi mengikuti perkembangan zaman dengan penanaman 4 pilar Negara. Meninjau keadaan, masih terdapat generasi muda yang berpikir bahwa mempelajari wawasan nusantara adalah hal yang kuno dan tidak menyenangkan. Maka, diperlukan pula upaya pemerintah bagaiman caranya untuk mengemas pendidikan kenegaraan ini menjadi suatu hal yang menarik untuk. Mengulas kutipan datuk Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”, menjadi perwujudan pula betapa signifikannya peran generasi muda untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Sebagai pelajar, kita pun dapat berkontribusi melalui berpartisipasi dalam kegiatan yang menanamkan 4 pilar kebangsaan ini, seperti mengikuti seminar sosialisasi 4 pilar yang dapat memperkaya wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme kita sebagai generasi Indonesia. Selain itu, dapat pula mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan pemerintah untuk mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan dalam kehidupan siswa. Atau mungkin bisa pula diwujudkan melalui suatu pembiasaan literasi dengan peningkatan minat membaca siswa--- untuk literasi tidak hanya sebatas wawasan Indonesia, melainkan juga memperkaya pengetahuan lainnya. Sekaligus pula dengan kegiatan literasi tersebut, dapat meningkatkan minat membaca pelajar yang saat ini sudah kalah saing dengan Negara asing.

Dengan diperolehnya pengetahuan-pengetahuan luas yang bertajuk karakter bangsa tersebut, tentunya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara yang lebih berkarakter lagi, di mana saat ini karakter bangsa Indonesia sendiri pun telah terkontaminasi oleh kebudayaan asing. Bahkan jika menganalisis keadaan saat ini, sering kali saat ditanya sesuatu mengenai wawasan nusantara, isi sumpah pemuda misalnya, masih banyak dari kalangan pelajar yang terkadang lupa 3 poin tersebut. Hal ini, bisa jadi karena saat ini pelajar tidak lagi dibiasakan akan hal itu. Bak pepatah berkata, alah bisa karena biasa.

Adapun pokok-pokok 4 pilar yang perlu ditanamkan sebagai bentuk kontribusi tersebut, antara lain Pancasila sebagai dasar Negara, yang seperti kita ketahui menjadi landasan pokok dan fundamental bagi penyelenggaraan Indonesia. UUD 1945 sebagai landasan konstitusional yang menjadi hukum dasar penyelenggaraan Negara ini. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai bentuk Negara yang lahir dari perjuangan bangsa. Dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai motto bangsa yang akan tetap menjadi pemersatu bangsa di tengah kemajemukan yang menjadi ciri khas Indonesia.

Pentingnya kontribusi berupa mensosialiasikan 4 pilar ini dalam kehidupan, khususnya semenjak berada di jenjang pendidikan akan berdampak sangat baik bagi bangsa ini kedepannya. Yang memiliki tujuan utama untuk mengingatkan dan membiasakan kembali komitmen bangsa agar pelaksanaan kontribusi lainnya dapat terselenggara dengan baik dan mampu mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur kedepannya.

Dengan mengingat apa yang tumbuh dari dalam bangsa kita sendiri, tentunya akan lebih memudahkan bangsa dalam berjuang menghadapi perkembangan dunia ini, terutama bagi kawula muda sebagai agen perubahan, yang hal ini akan sangat relevan bagi mengupayakan perubahan tersebut. Karena pada hakikatnya, jika kita sendiri pun tidak mampu mengenal bibit bagaimana akan mengupayakan untuk tumbuh unggul. Jadikanlah segala kontribusi sebagai penghargaan untuk negeri, ingatlah selalu dan cintai negeri ini. Istilahnya, janganlah menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.

---Juara umum lomba menulis esai 'Aku Masuk ITB' 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petite Histoire

"Jangan termenung, hidupmu masih terus berlanjut." Tangan dingin seorang wanita yang menyentuh bahuku tidak mampu menyadarkan lamunan  panjang itu. Pun angin sepoi yang tertiup ke wajah hampir tidak terasa. Tiada sanggup bila  mengingat sesuatu yang tak selayaknya diingat. Kelam dan memang patut padam,  menggambarkan diriku yang kini hidup dalam jiwa yang tenggelam. Beberapa hari belakangan bapak selalu dikuntit oleh mata-mata kolonial, bahkan beliau sengaja  menyelinap ke pemakaman umum agar penguntit tak berani meneruskan aksinya. Tepat pada  Maret 1927, rumah digedor oleh tiga orang berbadan tegap yang aku tak kenal. Salah satu dari  mereka membawa sebuah bevelbrief (surat perintah). Kata mereka, bapak akan dibawa ke  tempat jauh di timur sana, pembuangan dalam negeri ( interneringskamp ) Digul. Tanpa putusan  pengadilan yang sah bapak ditahan karena dianggap bersimpati pada pemberontakan 1926-1927.  Kewenangan itu diturunkan berdasar atas...

Perencanaan SMART Menuju Penerapan Blended Learning

Maju kena, mundur kena. Itulah kiranya gambaran pendidikan Indonesia selama masa pandemi ini. Sejak dikeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah d alam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid – 19) , sebanyak 4.504 Universitas yang ada di Indonesia ditutup   ( sumber: kemdikbud.go.id) . Untuk menghindari kluster baru penyebaran virus tersebut, aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan oleh segenap civitas akademika terpaksa dialihkan secara daring. Pembelajaran daring semula dilakukan di Indonesia tanpa adanya persiapan matang. Ketidaksiapan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan yang menurunkan efektivitas proses pembelajaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik tahun 2019, tingkat penetrasi internet di pedesaan hanya mencapai 51,91% sementara di perkotaan sekitar 78,08%. Realitas tersebut menjadi bukti bahwa belum semua daerah mendapatkan infrastruktur yang layak dalam rangka me...

Pesan dari Nadya 17 Tahun untuk Nadya Dewasa

Dear nadd,  Sebenarnya surat ini sedikit klise, karena ditulis oleh dan untuk diri sendiri. Meskipun begitu, aku berharap suatu saat nanti apa yang sudah ditulis dapat menjadi pengingat bagi Nadya dewasa. Hmm barangkali kesan dan pesannya tidak terlalu manis apalagi romantis, sebab aku yakin pada akhirnya akan menjadi esai. Gaya bahasa yang terlalu kekanak-kanakan juga selalu menjadi celah di setiap sela isi surat ini. Oh ya hampir lupa. Aku ingin berterima kasih kepada seorang Nadya yang sudah berani melangkah dan berjuang sampai sejauh ini, bertahan dalam melewati segala rintangan, intinya sudah berusaha menjadi yang lebih baik walau tentu belum menjadi yang terbaik. Jalan masih sangat panjang, memperjuangkan kesepadanan antara dunia dan akhirat tidak mudah untuk dicapai. Banyak doa dan harapan yang bergelimang dalam lantunan sepertiga malam. Pun tak terlepas dari segudang dorongan untuk melaju ke depan. Ayo bangkit lagi dan ingat bahwa ada Allah beserta orang-orang baik di s...