Di
zaman ini, wujud kontribusi tidak hanya harus dilakukan dengan kekuatan fisik,
melainkan dengan memaksimalkan potensi sumber daya manusianya. Indonesia
dikenal sebagai Negara dengan jumlah manusia yang melimpah. Namun jika kita
menilik lebih jauh mengenai kualitas manusia belum sepenuhnya dapat dikatakan
memenuhi mutu dan kualitas sebagaimana diperlukan untuk mengolah sumber daya
alam yang tersedia di negeri ini. Maka dari itu, kontribusi terhadap Negara
amat diperlukan. Kontribusi sendiri bermakna sebagai suatu tindakan ikut serta
untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan memposisikan perannya, yang
akan memberikan dampak terhadap suatu hal. Dari makna tersebut, tidak hanya
individu yang melakukan hal besarlah yang dapat disebut sebagai
kontributor—penyokong kegiatan kontribusi, sebab semua orang berhak untuk
berkontribusi bagi bangsa ini.
Dideklarasikannya
sumpah pemuda pada 28 Oktober merupakan salah satu tonggak utama dalam sejarah
yang menegaskan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia, sekaligus pula sebagai
dasar bagi para pemuda untuk berkontribusi sesuai dengan perannya. Pentingnya
peran generasi muda sangat dibutuhkan ditambah pula dengan terpredikatnya
sebagai agen perubahan, dimana nasib bangsa di masa mendatang ada di tangan
generasi muda,
Mengenai
pemuda, teringat pula ungkapan salah satu pejuang penting Indonesia, bapak
Soekarno “beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kawula muda
yang diharapkan, dibutuhkan, dan diandalkan oleh negeri ini harusnya memiliki
semangat yang semakin membara dengan terembannya beban pada jiwa mudanya-- terus
berjuang berimplikasi untuk meraih prestasi yang dapat membanggakan negeri.
Dalam
ruang lingkup yang lebih sempit, sebagai pelajar pun dapat menciptakan sebuah
dedikasi untuk Indonesia melalui kegiatan belajar yang semakin optimal. Esensi
utama kegiatan belajar dalam hal ini, bukan semata-mata untuk memperoleh nilai
akademik yang tinggi saja, melainkan upaya agar potensi generasi muda mampu
bersaing dengan pelajar lainnya di kancah internasional.
Upaya
untuk mendapatkan impresi dan apresiasi dari segenap masyarakat, termasuk
masyarakat internasional tentu diperlukan karakter bangsa di dalamnya sebagai instrumen
pertahanan identitas dan integritas bangsa. Namun, kendala yang menjadi
penghambat pula ialah kurangnya wawasan kebangsaan yang dimiliki oleh generasi
muda di tengah peradaban dunia berdasar globalisasi ini. Jika diberikan contoh,
masih terdapat beberapa orang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, namun saat
memasuki usia kerja beliau memilih untuk mengabdikan dirinya pada bangsa lain
yang dianggapnya lebih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya—vakum dari
kewarganegraan Indonesia, hal ini dikarenakan tidak tertanamnya rasa cinta
tanah air pada diri pribadi tersebut. Untuk itu, perlulah pula kontribusi
dengan tetap mempertahanakan dasar-dasar Indonesia, karena sejatinya
berjalannya proses kontribusi tidak akan kondusif bila melupakan pondasi
Negara— Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka tunggal ika atau biasa
disebut dengan 4 pilar kebangsaan.
“Tidak
ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara
berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya
bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang
terwujud dalam berbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam perekonomiannya, dalam
wataknya dan lain-lain sebagainya.” (Soekarno, 1958)
Berkaca
dari masih ‘apatis’-nya generasi muda terhadap pondasi dasar dalam mewujudkan
kontribusi menjadi perihal utama dalam diperlukannya
penyelenggaraan pendidikan berbasis teknologi mengikuti perkembangan zaman
dengan penanaman 4 pilar Negara. Meninjau keadaan, masih terdapat generasi muda
yang berpikir bahwa mempelajari wawasan nusantara adalah hal yang kuno dan
tidak menyenangkan. Maka, diperlukan pula upaya pemerintah bagaiman caranya
untuk mengemas pendidikan kenegaraan ini menjadi suatu hal yang menarik untuk.
Mengulas kutipan datuk Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang
hanya dimiliki oleh pemuda”, menjadi perwujudan pula betapa signifikannya peran
generasi muda untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.
Sebagai
pelajar, kita pun dapat berkontribusi melalui berpartisipasi dalam kegiatan
yang menanamkan 4 pilar kebangsaan ini, seperti mengikuti seminar sosialisasi 4
pilar yang dapat memperkaya wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme kita
sebagai generasi Indonesia. Selain itu, dapat pula mengikuti lomba cerdas
cermat yang diselenggarakan pemerintah untuk mengimplementasikan 4 pilar
kebangsaan dalam kehidupan siswa. Atau mungkin bisa pula diwujudkan melalui
suatu pembiasaan literasi dengan peningkatan minat membaca siswa--- untuk
literasi tidak hanya sebatas wawasan Indonesia, melainkan juga memperkaya
pengetahuan lainnya. Sekaligus pula dengan kegiatan literasi tersebut, dapat
meningkatkan minat membaca pelajar yang saat ini sudah kalah saing dengan
Negara asing.
Dengan
diperolehnya pengetahuan-pengetahuan luas yang bertajuk karakter bangsa
tersebut, tentunya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara yang lebih
berkarakter lagi, di mana saat ini karakter bangsa Indonesia sendiri pun telah
terkontaminasi oleh kebudayaan asing. Bahkan jika menganalisis keadaan saat ini,
sering kali saat ditanya sesuatu mengenai wawasan nusantara, isi sumpah pemuda
misalnya, masih banyak dari kalangan pelajar yang terkadang lupa 3 poin
tersebut. Hal ini, bisa jadi karena saat ini pelajar tidak lagi dibiasakan akan
hal itu. Bak pepatah berkata, alah bisa karena biasa.
Adapun
pokok-pokok 4 pilar yang perlu ditanamkan sebagai bentuk kontribusi tersebut,
antara lain Pancasila sebagai dasar Negara, yang seperti kita ketahui menjadi
landasan pokok dan fundamental bagi penyelenggaraan Indonesia. UUD 1945 sebagai
landasan konstitusional yang menjadi hukum dasar penyelenggaraan Negara ini.
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai bentuk Negara yang lahir dari
perjuangan bangsa. Dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai motto bangsa yang akan
tetap menjadi pemersatu bangsa di tengah kemajemukan yang menjadi ciri khas
Indonesia.
Pentingnya
kontribusi berupa mensosialiasikan 4 pilar ini dalam kehidupan, khususnya
semenjak berada di jenjang pendidikan akan berdampak sangat baik bagi bangsa
ini kedepannya. Yang memiliki tujuan utama untuk mengingatkan dan membiasakan
kembali komitmen bangsa agar pelaksanaan kontribusi lainnya dapat terselenggara
dengan baik dan mampu mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat,
adil, dan makmur kedepannya.
Dengan
mengingat apa yang tumbuh dari dalam bangsa kita sendiri, tentunya akan lebih
memudahkan bangsa dalam berjuang menghadapi perkembangan dunia ini, terutama
bagi kawula muda sebagai agen perubahan, yang hal ini akan sangat relevan bagi
mengupayakan perubahan tersebut. Karena pada hakikatnya, jika kita sendiri pun
tidak mampu mengenal bibit bagaimana akan mengupayakan untuk tumbuh unggul.
Jadikanlah segala kontribusi sebagai penghargaan untuk negeri, ingatlah selalu
dan cintai negeri ini. Istilahnya, janganlah menjadi kacang yang lupa akan
kulitnya.
---Juara umum lomba menulis esai 'Aku Masuk ITB' 2019
Komentar
Posting Komentar