Di suatu konferensi forum terbuka, seorang wanita paruh baya akan memberikan pidato sebagai sambutan atas penghargaan yang diberikan padanya berkat dedikasi yang ia kerahkan sejak dua tahun lalu. Disaksikan oleh ribuan pasang mata, ditambah lagi sorot lampu kamera yang tidak ingin tertinggal walau sepatah dua patah kalimatnya. Sedetik kemudian, dikeluarkannya sebuah kertas usang, sepertinya kertas contekan. Ah, memalukan sekali jika dalam forum semacam ini pidato saja tidak disampaikan luar kepala. Tanpa memedulikan pemikiran yang demikian, ia lantas membuka lipatan kertas itu dan membacakannya dengan suara lantang agar dapat didengar oleh seluruh manusia di dalam ruangan itu, sekalipun yang terhimpit di pojokan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Teruntuk Anda yang sedang membaca,
Bagaimana kabar Anda hari ini? Saya harap Anda baik-baik saja dan selalu berada pada lindungan Allah SWT.
Melalui surat ini entah akan ada pesan tersirat maupun tersurat bagi Anda entah tidak, saya pun tidak tahu. Sebab surat ini dibuat sekedar untuk menceritakan kisah kuno pada Anda. Terdengar menyebalkan, bukan?
Sosok yang akan menjadi tokoh utama kisah ini adalah seseorang yang sangat saya kagumi. Ya, surat ini didedikasikan penuh bagi idola saya. Beliau adalah sosok yang sejak belia sudah membuat saya berdecak kagum atas pencapaiannya, kontribusinya, juga gagasan cemerlang nan luar biasa miliknya. Dapat dikatakan bahwa ia adalah aset negara yang tak terkira mahal sejak masih berumur belasan.
Gadis ini benar-benar sederhana. Cita-citanya pun terbilang saklek dan tidak realistis, yakni hanya sekedar menjadi seorang pemimpi sejati. Makanan sehari-harinya adalah impian, sampai-sampai ada ratusan impian yang terpampang pada dinding meja belajarnya.
Namun siapa sangka di balik itu semua, dia memercayai sebuah mantra dalam menjalani kehidupannya. Mantra rahasia yang selalu ia tanamkan sejak dulu hanyalah secuil kutipan yel-yel saat ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak, yakni ‘Man Jadda Wa Jada.’ Dengan mantra itulah agaknya dia mampu unjuk diri hingga akhirnya menjadi sorotan publik.
Yang Anda baca tadi hanyalah kisah kuno 29 tahun silam, tidak etis saja rasanya jika melulu membicarakan hal yang sudah lalu. Melalui surat ini saya ingin memberi tahu bahwa gadis pemimpi tersebut sudah tumbuh dan berkembang menjadi puan tangguh yang selalu menjadi inspirasi banyak orang. Sosok itu adalah Anda, Nyonya Nadya Khairussyifa.
Maaf jika saya terlalu bertele-tele dalam menyampaikan kekaguman saya pada Anda. Saya pribadi paham betul bahwa Anda adalah wanita yang tegas nan lugas, meskipun orang-orang mencintai Anda dengan kelemah-lembutan yang Anda miliki. Namun hal ini semata agar kiranya tak terlalu cepat saya menyudahi surat untuk Anda, pun saya ingin menjadi salah satu kesan yang tertoreh di lubuk hati Anda.
Sebagai pengagum rahasia, saya tentu paling tahu tentang perjalanan hidup Anda. Dimulai dari bagaimana usaha Anda di bangku sekolah menengah dahulu yang penuh lika-liku, berjuang menjadi relawan, kehidupan berorganisasi, memenangkan berbagai jenis perlombaan, berusaha keras untuk meraih predikat siswi lulusan terbaik, berulang kali gagal dengan inovasi hingga akhirnya Anda dapatkan keberhasilan, dan semua kisah Anda lainnya. Peluh-air mata-senyum. Meskipun sederhana, tetapi fase-fase itulah yang mewarnai masa remaja Anda.
Dilanjutkan lagi dengan bagaimana saya teramat bangga dengan perjuangan Anda meraih beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Bukan sekedar beasiswa 75% hadiah perlombaan saja yang Anda dapatkan, namun juga beasiswa penuh dari pihak pemerintah luar negeri langsung. Sungguh keberuntungan tak terkira, banyak mata dan hati yang merasa iri pada Anda, tapi tak pernah Anda hiraukan itu. Bagi saya, Anda sendiri lah sosok padi sebagaimana yang Anda idamkan, kian berisi kian merunduk.
Serupa tapi tak sama. Ah, tepat sekali. Anda dan Alm. B. J. Habibie yang merupakan idola Anda bahkan satu almamater dalam menempuh perkuliahan, Institut Teknologi Bandung, kampus impian banyak insan. Jika yang beliau pelajari adalah mengenai pesawat, lain halnya dengan Anda yang mempelajari mengenai obat. Saya percaya bahwa Anda tak akan kalah hebat dengan sosok yang memotivasi Anda yakni, Alm. B. J. Habibie.
Benar saja yang saya katakan. Pendidikan yang tinggi tidak sia-sia, hingga Anda meraih gelar yang begitu panjang sebagai pelengkap nama asli Anda. Mulai dari gelar S1, S2, S3, dan gelar-gelar lain yang ada. Bukan tanpa alasan, semua pengorbanan Anda yang membayar pencapaian itu. Bertambah lagi kenikmatan yang diterima, Anda berhak memegang perusahaan farmasi internasional yang sangat membumi, yang sangat terkenal se-antero dunia.
Bayangkan betapa rekor yang Anda cetak ini bahkan membuat negeri Anda teramat bangga memiliki anak bangsa terbaik seperti Anda. Anda tahu hal apalagi yang membuat saya terpelongo memandangi diri Anda? Ketika Anda meninggalkan semua kenikmatan itu untuk mengabdi pada negeri, bukan sekedar bentuk balas budi kata Anda, melainkan karena cinta yang sebenar-benarnya pada Indonesia. Tidak semua orang bisa melakukannya, tetapi Anda bisa.
Wah nyonya ternyata itu memang keputusan yang tidak salah, seolah batin Anda terikat betul dengan Indonesia. Indonesia memang memberi sinyal bahwa kala itu ia membutuhkanmu. Persoalan kurang cakapnya dunia medis yang menjadi alasan masyarakat Internasional mengkritisi Indonesia adalah biang kekacauan. Atas pertimbangan kontribusi Anda di masa muda yang dengan santernya melakukan vokalisasi terkait hal itu, ditambah lagi kesediaan Anda untuk terjun langsung menjadi pejuang kesehatan, maka dengan penuh kehormatan presiden memohon pada Anda untuk menjadi menteri di negeri ini. Anda lah menteri kesehatan yang menorehkan tinta emas sejarah, Anda berhasil menuntaskan semua masa krisis kesehatan di Indonesia, bahkan dunia.
Selanjutnya, saya lagi lagi bersyukur bisa belajar dari sosok Anda yang membuktikan bahwa Allah benar-benar adil pada hambanya. Kenikmatan yang sebelumnya Anda tinggalkan, kini digantikan oleh-Nya dengan yang jauh lebih indah. Usai satu periode menjabat sebagai menteri kesehatan di Indonesia, Anda langsung mendapat tawaran untuk memegang jabatan penting di lembaga organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) yang berada di bawah naungan United Nations atau yang biasa dikenal masyarakat Indonesia dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kalau Anda masih ingat, mengunjungi gedung sekretariat PBB di New York adalah list ke-55 Anda. Alhamdulillah sudah terwujud, Anda senang saya pun senang. Bukan lagi sebatas persoalan kesehatan masyarakat Indonesia yang Anda hadapi, tapi persoalan yang jauh lebih besar yakni untuk memastikan bahwa semua orang terjamin kesehatannya dalam skala universal, melindungi lebih dari satu miliar orang dari keadaan darurat kesehatan, serta juga memberikan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Tanggung jawab yang besar, bukan? Tentu, namun saya yakin Anda pribadi yang dapat memegang amanah.
Tidak sampai di situ saja. Selaku masyarakat Indonesia, saya banyak berterima kasih kepada Anda karena telah membangun masjid yang disertai perpustakaan seperti impian Anda, ditambah lagi dengan berdirinya 1000 rumah baca di seluruh penjuru Indonesia. Kepedulian Anda terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia patut diacungi jempol. Benar kata Anda, strategi sederhana membangun negara maju adalah memberdayakan generasi mudanya.
Dan tahukah Anda, bahwa sampai saat ini buku yang paling diminati di perpustakaan tersebut adalah buku-buku karya Anda sendiri, mulai buku pertama hingga buku ke sekian yang sudah Anda terbitkan. Bahkan banyak orang asing yang rela mengembara ke Indonesia hanya untuk membaca karya-karya Anda, mempelajari rekam jejak perjalanan hidup Anda. Ditambah lagi dengan ide cemerlang Anda yang memadupadankan budaya Indonesia sebagai ciri khas arsitektur tiap perpustakaan membuat siapa saja yang mengunjungi perpustakaan terpukau. Semakin cinta rakyat Indonesia dengan budayanya dan tidak sedikit pula masyarakat mancanegara yang ikut tertarik dengan budaya Indonesia. Dan gara-gara Anda, budaya Indonesia begitu terkenal di mata dunia. Begitu hebat, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah peribahasa yang tepat, nyonya.
Selain daripada itu pula, bisa saya rasakan bahwa Anda bukanlah kacang yang lupa akan kulitnya, Anda menghargai usaha setiap orang yang mendorong Anda hingga bisa berada di titik ini, termasuk kedua orangtua Anda. Betapa banyak teladan yang saya curi dari sosok Anda, bagaimana Anda benar-benar memuliakan mereka. Juga tak salah nyonya, apabila orang-orang nyaman berada di sekitar Anda, sebab sosok Anda begitu mengayomi satu sama lainnya. Pesan saya, tetaplah demikian.
Saya tidak tahu harus menuliskan apalagi tentang Anda. Oh, mungkin tentang rumah tangga yang Anda bina hingga saat ini, dan bahkan hingga di akhirat nanti. Keluarga harmonis Anda pun sering menjadi acuan banyak keluarga di luar sana. Suami Anda adalah orang yang berwawasan luas, barangkali hal tersebut yang membuat Anda merasa satu frekuensi dengan beliau. Keduanya ingin berdikari, tetapi alangkah salutnya saya dengan sosok suami-istri ini yang sama sekali tak egois satu sama lain, selalu saling melengkapi, mendukung, dan juga menyayangi. Bukan hanya harmonis, namun juga agamis. Agama selalu dijadikan tiang dasar dalam membangun rumah tangga, termasuk dalam mendidik putra-putri Anda.
Nyonya yang terhormat, putra-putri Anda kini sudah mulai beranjak dewasa, mereka tumbuh dan berkembang menjadi inspirasi banyak remaja lainnya. Sudahlah cerdas, beretika, santun, sholeh dan sholehah pula. Pun mereka mengingatkan saya pada sosok Anda di masa muda, mereka mirip sekali dengan Anda sebab begitu besar kontribusinya.
Lelah sudah tangan saya menyulurkan kisah tentang Anda, habis pula kata-kata sebab surat ini dibuat ketika ilmu saya masih terbatas. Atas nama ruang dan waktu yang jelas tidak sama, saya menyatakan kekaguman saya pada Anda. Tetap menjadi seorang Nadya Khairussyifa yang dikenal dan diteladani oleh banyak orang. Jangan pernah berhenti Nyonya, karena terdapat banyak hal yang menanti untuk diperjuangkan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dari saya,
Si gadis pemimpi di usia 16 tahun yang kini sedang membaca surat ini.
Wanita itu ternyata tidak menyampaikan pidato sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang bila diapresiasi, melainkan hanya membacakan sebuah surat. Surat yang beliau tulis ketika masih remaja, pertanda bahwa bermimpi tidaklah salah dan tiada satu pun yang berhak melarangnya.
Usai beberapa saat terpaku menonton pembacaan surat tadi, riuh tepuk tangan memenuhi ruangan yang luasnya hampir sama dengan ukuran lapangan sepak bola, ingar-bingar semrawut sorakan nama cukup memekakkan telinga, bahkan ada pula yang terisak menangis haru hingga ingusnya tak sadar mengalir.
Ya, intinya itulah cara mereka mengapresiasi kisah perjalanan sosok panutan nan legendaris, Nadya Khairussyifa.
Oke kawan-kawan, dengan hormat saya pribadi memohon maaf kalau kisah ini kurang nyambung, karena memang biasanya hanya berkutat pada penulisan artikel maupun esai hehe. Untuk saran, silakan ajukan pada kolom komentar yaa!
Good job.Nadya
BalasHapusNadya lopp bgt sama tulisannya
BalasHapusAw, terima kasih😭❤️
Hapus