Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Afirmasi dari Diri

"Ih, dia kok sok asik" "Cari perhatian deh kayaknya" "Dia kok gitu sih" "Idih, sok kali gitu gayanya" "Gak banget pokoknya" Dan banyak kalimat-kalimat lain yang intinya tetap saja mengkritisi perilaku orang. Tanpa kamu sadari ternyata waktu milikmu terlalu banyak digunakan semata untuk berpikiran buruk, seolah semua yang dilakukan itu kurang tepat, gak cocok, kurang pas, ada saja kurangnya. Prasangka-mu selalu saja soalan bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan yang menurutmu paling benar. Sampai-sampai pemikiran ini yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Saya rasa kita semua akan sepakat kalau sifat-sifat tersebut tidak baik, kan? Kalau bicara soal benar atau salah, kita kembalikan pada persepsi masing-masing. Kamu harus menggarisbawahi bahwa kata persepsi itu dilatarbelakangi oleh konsepsi subjektif. Yang menurutmu pas, belum tentu sama menurut yang lainnya, pun begitu sebaliknya. Ti...

Hanyut dalam Selesik Bisik

Seolah Putu Wijaya berbisik melalui bait-bait puisi yang saya baca sepuluh menit lalu, "Angan-angan mendaki langit pun runtuh, patah pecah terbelah amarah parah semangat rebah terburai darah triliunan impian punah kita menyerah kala laut pasrah." Tiada luka yang diredam, tiada kubangan lalu yang benar-benar dalam, tiada yang memojokkan pada gelombang padam, tapi tiba-tiba diam. Lalu lantunan syair pula terbaca, membirahi pada diri, "Bila kau percaya pada percaya. Bila kau setia pada setia. Asal kau tetap kau" "Akan terbit cahaya di dalam kelam"

Pekik-Pekuk Pertanda Peka: Sampaikan, Jangan Berdiam!

Aku dan mama mengambil posisi makan bersebelahan siang ini. Selepas makan, aku pinta bantuan pada mama, "Ma, kakak minta tolong ambilkan itu boleh?" Lantas mama berikan kotak tusuk gigi kepadaku. Merespon hal tersebut, lantas bermasam muka lah aku, sebab aku meminta tolong ambilkan air minum tepat dengan kata 'itu' yang ku tunjuk tadi, bukannya kotak tusuk gigi yang ada di sebelahnya. Sepersekian detik kemudian, mama berkata, "Tidak semua paham isyarat, tidak semua bisa peka, tidak semua pandai menafsirkan, agaknya berterus-terang sering jadi pilihan tepat." Kena aku! Ya, akhirnya kata 'maaf' jadi perangai yang menghiasi ukiran senyum (manis) ini. Memang terkadang ber-pernyataan terbuka jauh lebih baik, tidak akan menimbulkan duga sangka yang salah. Akan tahu sama tahu apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan. Antara rasa dan asa antar pribadi pun akan saling terbalaskan. Manusia tidak bisa disamakan dengan ahli sihir yang mampu me...