"Jangan termenung, hidupmu masih terus berlanjut." Tangan dingin seorang wanita yang menyentuh bahuku tidak mampu menyadarkan lamunan panjang itu. Pun angin sepoi yang tertiup ke wajah hampir tidak terasa. Tiada sanggup bila mengingat sesuatu yang tak selayaknya diingat. Kelam dan memang patut padam, menggambarkan diriku yang kini hidup dalam jiwa yang tenggelam. Beberapa hari belakangan bapak selalu dikuntit oleh mata-mata kolonial, bahkan beliau sengaja menyelinap ke pemakaman umum agar penguntit tak berani meneruskan aksinya. Tepat pada Maret 1927, rumah digedor oleh tiga orang berbadan tegap yang aku tak kenal. Salah satu dari mereka membawa sebuah bevelbrief (surat perintah). Kata mereka, bapak akan dibawa ke tempat jauh di timur sana, pembuangan dalam negeri ( interneringskamp ) Digul. Tanpa putusan pengadilan yang sah bapak ditahan karena dianggap bersimpati pada pemberontakan 1926-1927. Kewenangan itu diturunkan berdasar atas...